MACAM-MACAM IBADAH
1.
Do’a
Firman Allah ta’ala:
“Dan Tuhanmu berfirman:
"Berdo’alah kepada-Ku niscaya akan Ku perkenankan bagimu".
Sesungguhnya, orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk
neraka Jahannam dalam keadaan hina dina.”(QS. Ghafir: 60).
Dan diriwayatkan dalam hadits:
“Do’a itu adalah sari ibadah
( Hadits riwayat At-Tirmizi dalam Al-Jami’ Ash-Shahih, kitab -Da’awat, bab I ).
Maksud hadits ini ialah bahwa segala
macam ibadah, baik yang umum maupun yang khusus, yang dilakukan seorang mu’min
(seperti: mencari nafkah yang halal untuk keluarga, menyantuni anak yatim dll)
mesti diiringi dengan permohonan ridha Allah dan pengharapan balasan ukhrawi.
Oleh karena itu do’a (permohonan dan pengharapan tersebut) disebut oleh
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam sebagai sari atau otak ibadah, karena
senantiasa harus mengiringi gerak ibadah.
2.
Khauf (takut)
Firman Allah ta’ala:
“Karena itu janganlah kamu
takut kepada mereka, tetapi takutlah kepada-Ku, jika kamu benar-benar
orang yang beriman.” (QS. Ali Imran: 175).
3.
Raja’ (pengharapan)
Firman Allah ta’ala:
“Untuk itu, barangsiapa
mengharap perjumpaan dengan Tuhannya, maka hendaklah ia mengerjakan amal yang
shaleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadah kepada
Tuhannya.” (QS. Al-Kahfi: 110).
4.
Tawakkal (berserah diri)
Firman Allah ta’ala:
"Dan hanya kepada Allah
hendaklah kamu bertawakkal, jika kamu benar-banar orang yang
beriman.” (QS. Al-Maidah: 23).
Dan juga firman-Nya:
“Dan barangsiapa yang
bertawakkal kepada Allah niscaya Allah akan mencukupkan (keperluan) nya.”
(QS. Ath-Thalaq: 3).
5.
Raghbah (penuh minat), rahbah (cemas) dan khusyu’ (tunduk)
Firman Allah ta’ala:
“Sesungguhnya mereka adalah
orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang
baik dan mereka berdo’a kepada Kami dengan harap (kepada rahmat Kami) dan cemas
(akan siksa Kami), dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada Kami.”
(QS. Al-Anbiya’: 90).
6.
Khasy-yah (takut)
Firman Allah ta’ala:
“Maka janganlah kamu takut
kepada mereka, dan takutlah kepada-Ku.” (QS. Al-Baqarah: 150).
7.
Inabah (kembali kepada Allah)
Firman Allah ta’ala:
“Dan kembalilah kamu kepada
Tuhanmu dan berserah dirilah kepada-Nya (dengan mentaati perintah-Nya)
sebelum datang azab kepadamu, kemudian kamu tidak dapat di tolong lagi.”
(QS. Az-Zumar: 54).
8.
Isti’anah (memohon pertolongan)
Firman Allah ta’ala:
“Hanya kepada Engkau-lah
kami menyembah dan hanya kepada Engkau-lah kami mohon pertolongan.” (QS.
Al-Fatihah: 4).
Dan diriwayatkan dalam hadits:
“Apabila kamu memohon
pertolongan, maka mohonlah pertolongan kepada Allah” ( Hadits riwayat
At-Tirmizi dalam Al-Jami’ Ash-Shahih, kitab Syafa'at Al-Qiyamah War-Raqaiq
Wal-Wara’, bab 59. dan riwayat Imam Ahmad Musnad, jillid I, hal. 293, 303, 307.
) .
9.
Isti’adzah (memohon perlindungan)
Firman Allah ta’ala:
“Katakanlah: Aku berlindung
kepada Tuhan Yang Menguasai subuh.” (QS. Al-Falaq: 1).
“Katakanlah: "Aku
berlindung kepada Tuhan Manusia, Raja manusia.” (QS. An-Nas: 1-2).
10.
Istighatsah (memohon pertolongan untuk dimenangkan atau diselamatkan)
Firman Allah ta’ala:
“(Ingatlah) ketika kamu
memohon pertolongan kepada Tuhanmu untuk dimenangkan (atas kaum musyrikin),
lalu diperkenankan-Nya bagimu.” (QS. Al-Anfal: 9).
11.
Dzabh (menyembelih)
Firman Allah ta’ala:
“Katakanlah: "Sesungguhnya
shalatku, ibadatku (sembelihanku), hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah
Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya. Dan demikianlah yang diperintahkan
kepadaku dan aku adalah orang yang pertama-tama berserah diri (kepada Allah).”
(QS.Al-An’am : 162-163).
Dan dalil dari
sunnah:
“Allah melaknat orang yang
menyembelih (binatang) bukan karena Allah” ( Hadits riwayat Muslim dalam
Shahihnya, kitab Al-Adhahi, bab 8. dan riwayat Imam Ahmad dalam Al-Musnad,
jilid 1, hal. 108 dan 152 ).
12.
Nadzar
Firman Allah ta’ala:
“Mereka menunaikan nadzar
dan takut akan suatu hari yang azabnya merata di mana-mana.” (QS.
Al-Insan: 7).
Hadis riwayat Anas
bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw.
dan Muaz bin Jabal berboncengan di atas tunggangan. Rasulullah saw. bersabda:
Hai Muaz. Muaz menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah.
Rasulullah saw. memanggil lagi: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan
Allah, aku siap menerima perintah. Sekali lagi Rasulullah saw. memanggil: Hai
Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah.
Rasulullah saw. bersabda: Setiap hamba yang bersaksi bahwa: Tiada Tuhan selain
Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka Allah mengharamkan
api neraka atasnya. Muaz berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan
hal ini kepada orang banyak agar mereka merasa senang? Rasulullah saw.
bersabda: Kalau engkau kabarkan, mereka akan menjadi sebagai andalan. [HR
Muslim]
Hikmah Syahadat sebagai Rukun Islam pertama
Ingatlah
selalu bahwa bila seseorang menyatakan kalau ia beriman pada Tuhan yang Maha
Esa, yang tanpa sekutu, serta beriman kepada Rasulullah Muhammad saw. serta
meyakini segala hal lain berkaitan dengan agama, tetapi realitasnya pernyataan
itu hanya merupakan ucapan di bibir semata dan hatinya tidak mengakuinya, maka
pernyataan demikian tidak akan membawa keselamatan baginya.
Keselamatan
tidak akan diperoleh sampai suatu saat hati telah mengimani dan hal demikian
menjadi nyata jika perilaku dan amal perbuatan yang bersangkutan
membuktikannya. Sampai keadaan demikian tercapai, tidak ada sesuatu yang telah
dicapai. Sesungguhnya aku nyatakan dengan sebenarnya bahwa tujuan hakiki baru
akan bisa tercapai jika seseorang yang berpaling kepada Tuhan telah
meninggalkan segala yang akan menjadi gangguan, ketika agama sudah diberikan
prioritas utama di atas segala aktualitas duniawi.
Ingatlah!
Seseorang bisa saja menipu mahluk lainnya. Orang bisa terkecoh pandangannya
melihat seseorang melakukan shalat lima kali sehari atau melakukan beberapa
amal baik lainnya, namun Tuhan tidak bisa ditipu. Karena itu amal saleh harus
dilakukan dengan ketulusan yang murni karena hal inilah yang menambah keindahan
dari amal tersebut.
Patut selalu
diingat mengenai makna dari Kalimah Shahadat yang kita ucapkan setiap hari.
Dengan Kalimah itu seseorang mengikrarkan secara lisan dan bersaksi dengan
hatinya bahwa baginya Sang Maha Esa yang patut disembah dan dikasihi adalah
Wujud Tunggal yang menjadi tujuan hakiki.
Dialah Allah
swt dan tak ada sesuatu apa pun selain Dia. Arti kata Ilaha dalam Kalimah
tersebut mengandung makna ‘yang terkasih’, ‘wujud yang menjadi tujuan hakiki’
dan ‘wujud yang disembah dan dihormati.’
Pernyataan
itu merupakan inti keseluruhan ajaran Al-Quran dalam bentuk paling padat yang
diajarkan kepada umat Muslim. Karena tidak mudah menghafal kitab yang demikian
tebal dan rinci, Kalimah ini diajarkan agar setiap orang tetap bisa memelihara
esensi ajaran Islam secara konstan dalam fikirannya. Sesungguhnya sebelum semua
realitas itu berakar dalam kalbu manusia, maka tidak ada keselamatan baginya.
Karena itulah Hazrat Rasulullah saw. menyatakan: ‘Barangsiapa yang mengikrarkan
bahwa tidak ada tuhan/yang disembah/diibadahi selain Allah, ia akan masuk
surga.’ Dengan kata lain, seseorang yang sepenuhnya mengimani ‘la ilaha
illallah’ maka ia akan masuk ke dalam surga.
Sebenarnya
manusia menipu dirinya sendiri jika mengira bahwa mengulang-ulang suatu kata
seperti burung beo, akan memberi mereka kemudahan masuk surga. Jika realitas
memang demikian adanya maka semua amal akan menjadi mubazir dan sia-sia dan
Shariah bisa dianggap, naudzubillah, tidak relevan.
Nyatanya
tidak demikian adanya. Yang patut diperhatikan ialah makna yang terkandung di
dalamnya haruslah meresap ke dalam hati saat pengamalannya. Jika hal ini bisa
tercapai maka benar bahwa yang bersangkutan telah masuk surga, bukan setelah
kematian, tetapi sekarang juga dalam kehidupan kini yang bersangkutan telah
memasuki surga. (Malfuzat, vol. 9, h.102 – 104)
Yang dikemukakan
di atas ini adalah kompilasi ekstraksi yang diambil dari Malfuzat. Malfuzat
adalah judul dari sepuluh jilid buku yang berisi kumpulan diskursus, khutbah
dan nasihat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. dari Qadian, Masih Maud dan Imam
Mahdi.
Manfaat shalat secara umum:
1.
Memperbaiki
otot punggung.
2.
Memperbaiki
jaringan otot tubuh.
3.
Mengembalikan
keseimbangan tubuh pasca bedah tulang.
4.
Menyembuhkan
otot/tulang yang terkilir.
5.
Menyehatkan
urat nadi dan hati.
6.
Mengurangi
resiko tekanan darah tinggi.
7.
Melancarkan
saluran pernapasan lewat bacaan shalat.
8.
Memperlancar
peredaran darah.
9.
Membuat
tulang mampu menyerap lebih banyak kalsium.
10.
Membakar
lemak di bagian perut.
11.
Menghindari
proses penuaan dini.
Manfaat sujud:
1.
Memperkuat
tulang dan otot terutama pada bagian paha, tumit dan kaki.
2.
Mengoptimalkan
ketahanan fisik.
3.
Melancarkan
peredaran darah.
4.
Mempermudah
proses persalinan dan menghindari posisi bayi sungsang pada wanita hamil.
5.
Mencegah
kenaikan kadar kolestrol dalam darah.
6.
Memperbaiki
fungsi pencernaan.
7.
Sarana
latihan pernapasan.
8.
Membersihkan
sel darah putih dan sel darah merah.
9.
Menyiapkan
diri secara psikologis dalam menghadapi tantagan hidup.
Manfaat shalat subuh pada waktunya:
1.
Mengoptimalikan
fungsi urat syaraf.
2.
Menenangkan
jiwa.
3.
Menjernihkan
pikiran.
4.
Awet
muda.
Manfaat Shalat dari Segi Psikologi:
·
Menjernihkan
jiwa.
·
Mencapai
kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness).
·
Mencapai
pengalaman puncak (peak experience).
·
Mengurangi
kecemasan lewat:
1.
meditasi/doa
yang teratur
2.
relaksasi
dengan gerakan shalat
3.
hetero/auto
sugesti dalam bacaan shalat
4.
group
therapy dalam shalat jamaah, atau bahkan dalam shalat sendiri ada saya dan
Allah
5.
hydro
therapy dengan berwudhu
·
Mengembalikan
kesadaran dengan bermi'raj menuju kepada ketinggian Ilahi Rabbi.
·
Melepaskan
diri dari pengaruh alam yang lebih rendah.
·
Bertemu
Allah.
·
Meringankan
ketegangan jiwa.
·
Membuat
pelaku shalat mampu meninggalkan pekerjaan yang buruk.
·
Menumbuhkan
kedermawanan dan keberanian pada pelakunya.
·
Menumbuhkan
sifat saling tolong menolong.
·
Symbol
persamaan dan kebersamaan.
Manfaat Medis Shalat Tahajjud:
Hadits: shalat tahajjud dapat menghapus dosa, mendatangkan
ketenangan, dan menghindakan dari penyakit (HR Tirmidzi).
Ketenangan akan:
1.
Meningkatkan
ketahanan tubuh (Imunologik).
2.
Mengurangi
resiko serangan jantung.
3.
Meningkatkan
usia harapan
4.
Menghilangkan
rasa nyeri pada pasien kanker.
5.
Alternatif
anastesis pra-bedah.
Manfaat medis
lain tahajjud:
1.
Menjadikan
wajah cemerlang dan bersinar.
2.
Mengobati
sakit pada tubuh.
3.
Melancarkan
peredaran darah , terutama pada syaraf otak dan punggung.
4.
Sujud
di shalat tahajjud membuat sel-sel darah dalam otak menjadi bersih dan segar.
5.
Shalat
tahajjud yang disertai niat ikhlas, khusyu, tepat waktu dan terus menerus akan
menghindarkan stress, memperbaiki system imun, dan menghindarkan dari infeksi
dan kanker, sedangkan shalat tahajjud yang tidak disertai niat yang iklas,
tidak khuyu, tidak tepat waktu dan tidak terus menerus dapat menimbulkan
stress, menimbulkan rasa sakir dan penyakit, memperburuk system imun, dan
rentan terkena infeksi dan kanker.
Manfaat shalat tahajjud dalam rangka pemeliharaan
homeostatis:
1.
Terkabulnya
doa
2.
Terjawabnya
permintaan
3.
Diampuninya
dosa
4.
Menyambung
komunikasi dengan Allah
Bukan tanpa maksud Allah menempatkan shalat dengan segala hal yang
berhubungan dengannya sampai Dia menerbangkan rasul ke keluasan tanpa batas di
sidratul muntaha. Karena, cukuplah pertemuan dengan Allah yang maha kasih yang
akan menggenapkan kita dari segala butuh, di dunia dan akhirat.
Hikmah Shalat Dalam Kehidupan Umat
"Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Ali Imran 191)
Shalat merupakan ibadah yang penting dan utama bagi umat Islam.
Begitu pentingnya shalat sehingga untuk memberikan perintah shalat Allah
berkenan memanggil sendiri Rasulullah SAW untuk menghadap-Nya secara langsung.
Sedangkan untuk perintah-perintah Allah yang lain selalu disampaikan kepada
Rasulullah melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena shalat merupakan ibadah
yang terpenting bagi kehidupan umat, maka tentulah banyak mengandung hikmah
baik ditinjau secara moral (rohani) maupun fisik (jasmani).
1. Tinjauan dari segi moral
Shalat merupakan benteng hidup kita agar jangan sampai
terjerumus ke dalam perbuatan keji dan munkar. Hal ini tampak jelas dalam
firman Allah SWT :
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan munkar"
(QS. Al Ankabut 45)
Shalat yang khusu’ mewujudkan suatu ibadah yang benar-benar
ikhlas, pasrah terhadap zat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Di dalam shalat
tersebut kita meminta segala sesuatu dari-Nya, memohon petunjuk untuk
mendapatkan jalan yang lurus, mendapat limpahan rahmat, rizki, barokah dan
pahala dari-Nya. Oleh karena itu orang yang shalatnya khusu’ dan ikhlas karena
Allah SWT akan selalu merasa dekat kepada-Nya dan tidak akan menghambakan diri,
tidak akan menjadikan panutan selain daripada Allah SWT. Dengan kata lain
segala sesuatu yang dilakukan hanyalah karena Allah dan hanya untuk mendapatkan
ridlo’ dari Allah. Maka pantaslah jika Allah berfirman :
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang
beriman (yaitu) orang-orang yang khusu’ dalam sembahyangnya"
(QS. Al Mu’minuun 1-2)
Disamping itu shalat juga membersihkan jiwa dari sifat-sifat
yang buruk, khususnya cara-cara hidup yang materialis yang menjadikan urusan
duniawi lebih penting dari segala-galanya termasuk ibadah kepada Allah.
Kebersihan dan kesucian jiwa ini digambarkan dalam sebuah hadits :
"Jikalau di pintu seseorang diantara kamu
ada sebuah sungai dimana ia mandi lima kali, maka apakah akan tinggal lagi
kotorannya (yang melekat pada tubuhnya) ? Bersabda Rasulullah saw : ‘Yang
demikian itu serupa dengan shalat lima waktu yang (mana) Allah dengannya
(shalat itu) dihapuskan semua kesalahan’."
(HR. Abu Daud)
Yang dimaksud kesalahan disini adalah yang berupa dosa-dosa
kecil, sedangkan yang berupa dosa besar tetap wajib dengan bertaubat kepada
Allah.
Jadi pada hakekatnya shalat itu mendidik jiwa kita agar
terhindar dari sifat-sifat takabur, sombong, tinggi hati, dan sebagainya, serta
mengarahkan kita agar selalu tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT. Hal
ini karena pada dasarnya manusia selalu berkeluh kesah apabila ditimpa
kesusahan dan bersifat kikir apabila mendapat kebaikan, ini sesuai dengan salah
satu firman Allah :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat
keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah
dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir kecuali orang-orang yang
mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya" (QS. Al
Ma’aarij)
Apabila kita mendapat suatu musibah maupun kesulitan, maka kita
harus memohon pertolongan kepada Allah dengan mengerjakan shalat dan bersabar
serta tawakal.
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusu’."
(QS. Al Baqarah 45)
"Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar
dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang
sabar."
(QS. Al Baqarah 153)
Di dalam salah satu firman-Nya Allah juga menegaskan nilai
positif dari shalat :
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati
mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat
Allah-lah hati menjadi tenteram"
(QS. Ar Ra’d 28)
Disamping hal-hal diatas, shalat juga membina rasa persatuan dan
persaudaraan antara sesama umat Islam. Hal ini dapat kita lihat antara lain,
apabila seseorang shalat tidak dalam keadaan yang khusus pasti selalu menghadap
kiblat yaitu Ka’bah di Masjidil Haram Mekah. Umat Islam di seluruh dunia
mempunyai satu pusat titik konsentrasi dalam beribadah dan menyembah kepada
Khaliq-nya yaitu Ka’bah, hal ini akan membawa dampak secara psikologis yaitu
persatuan, kesatuan, dan kebersamaan umat. Contoh lain adalah pada shalat
berjamaah, shalat berjamaah juga mengandung hikmah kebersamaan, persatuan,
persaudaraan dan kepemimpinan dimana pada setiap gerakan shalat ma’mum
mempunyai kewajiban mengikuti gerakan imam, sedangkan imam melakukan kesalahan,
maka ma’mum wajib mengingatkan. Sehingga pada shalat berjamaah keabsahan maupun
kebenaran dalam shalat lebih terjamin, dan diantara jama’ah akan timbul rasa
kebersamaan dan persatuan untuk menyelamatkan jama’ah mereka. Ibarat orang
berkendaraan, penumpang akan selalu ikut menjaga keamanan dan keselamatan
kendaraan yang ditumpanginya. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika shalat
berjamaah mendapatkan tempat yang lebih dibandingkan dengan shalat sendiri. Hal
ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
"Shalat berjamaah lebih utama (pahalanya)
dua puluh derajat" (HR. Bukhary & Muslim dari Ibnu Umar)
2. Tinjauan
dari segi fisik (kesehatan)
Shalat disamping mengandung hikmah secara moral seperti
diuraikan diatas, juga mengandung hikmah secara fisik terutama yang menyangkut
masalah kesehatan.
Hikmah shalat menurut tinjauan kesehatan ini dijelaskan oleh DR.
A. SABOE yang mengemukakan pendapat ahli-ahli (sarjana) kedokteran yang
termasyhur terutama di barat. Mereka berpendapat sebagai berikut :
a) Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas
pergelangan tangan kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua
tangan sebab sendi-sendi, otot-otot kedua tangan berada dalam posisi istirahat
penuh. Sikap seperti ini akan memudahkan aliran darah mengalir kembali ke
jantung , serta memproduksi getah bening dan air jaringan dari kedua persendian
tangan akan menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam persendian akan
menjadi lebih lancar. Hal ini akan menghindari timbulnya bermacam-macam
penyakit persendian seperti rheumatik. Sebagai contoh, orang yang mengalami
patah tangan, terkilir maka tangan/lengan penderita tersebut oleh dokter akan
dilipatkan diatas dada ataupun perut dengan mempergunakan mitella yang
disangkutkan di leher.
b) Ruku’, yaitu membungkukkan badan dan meletakkan telapak
tangan diatas lutut sehingga punggung sejajar merupakan suatu garis lurus.
Sikap yang demikian ini akan mencegah timbulnya penyakit yang berhubungan
dengan ruas tulang belakang, ruas tulang pungung, ruas tulang leher, ruas
tulang pinggang, dsb.
c) Sujud, sikap ini menyebabkan semua otot-otot bagian atas akan
bergerak. Hal ini bukan saja menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat,
tetapi peredaran urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah serta
limpa akan menjadi lancar di tubuh kita. Dengan sikap sujud ini maka dinding
dari urat-urat nadi yang berada di otak dapat dilatih dengan membiasakan untuk
menerima aliran darah yang lebih banyak dari biasanya, karena otak (kepala)
kita pada waktu itu terletak di bawah. Latihan semacam ini akan dapat
menghindarkan kita mati mendadak dengan sebab tekanan darah yang menyebabkan
pecahnya urat nadi bagian otak dikarenakan amarah, emosi yang berlebihan,
terkejut dan sebagainya yang sekonyong-konyong lebih banyak darah yang di
pompakan ke urat-urat nadi otak yang dapat menyebabkan pecahnya urat-urat nadi
otak, terutama bila dinding urat-urat nadi tersebut telah menjadi sempit,
keras, dan rapuh karena dimakan usia.
d) Duduk Iftrasy (duduk antara dua sujud & tahiyat awal),
posisi duduk seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha , hal
ini mengakibatkan pangkal paha terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan
atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang menyebabkan
tidak dapat berjalan. Disamping itu urat nadi dan pembuluh darah balik di
sekitar pangkal paha dapat terurut dan tirpijit sehingga aliran darah terutama
yang mengalir kembali ke jantung dapat mengalir dengan lancar. Hal ini dapat
menghindarkan dari pengakit bawasir.
e) Duduk tawaruk (tahiyat akhir), duduk seperti ini dapat
menghindarkan penyakit bawasir yang sering dialami wanita yang hamil. Kemudian
duduk tawaruk ini juga dapat untuk mempermudah buang air kecil.
f) Salam, diakhiri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini
sangat berguna untuk memperkuat otot-otot leher dan kuduk, selain itu dapat
pula untuk menghindarkan penyakit kepala dan kuduk kaku.
Dari penjelasan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa sholat
disamping merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung
manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat
manusia.
(Oleh : Fajar Adi Kusumo)
Daftar Pustaka :
- Drs. M. Noor Matdawam, Bersuci, Shalat, dan
Butir-butir Hikmahnya
- Syeh Mustofa Masyhur, Berjumpa Allah Lewat
Shalat
- DEPAG RI, Al Qur’an & Terjemahannya
1.
Pembersih diri dan harta dari segala sifat-sifat kikir, bakhil dan
sejenisnya. (QS.9:103).
2.
Mendapat pahala yang besar (QS.4:162).
3.
Zakat membersihkan harta. “Allah SWT telah menjadikan
zakat itu sebagai pemberish bagi harta”. (HR. Bukhari).
4.
Orang yang berzakat termasuk dalam 7 golongan yang dinaungi Allah
SWT di hari kiamat. “Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah pada
hari kiamat kelak”… (salah satu diantaranya) adalah orang yang bersedekah dengan
merahasiakannya agar keikhlasannya terjaga”. (HR. Bukhari).
5.
Merasakan cita rasa iman. “Ada tiga hal, barang siapa
yang melakukan tiga hal itu, niscaya dia merasakan cita rasa iman:…(salah
satunya) ialah mengeluarkan zakat hartanya dengan hati yang baik dan ikhlas…” (HR. Abu Daud).
6.
Menumbuhsuburkan harta (Semakin bertambah dan berkembang).
(QS.2:261).
7.
Membantu meringankan bebean kaum fakir/miskin. “Allah SWT
mewajibkan bagi orang-orang kaya muslim agar mengeluarkan sebagian harta mereka
untuk membantu fakir miskin diantara mereka. Para fakir miskin tidak akan mempu
berjihat dalam keadaan lapar kecuali mereka dibantu orang-orang kaya yang ada
diantara mereka…”(HR. Thabrani).
8.
Zakat memelihara harta orang kaya. “Peliharalah hartamu dengan
zakat, obati orang-orang sakit dengan sedekah dan tolaklah bala’ dengan do’a”.
(HR. Thabrani dan Ibnu Mas’ud).
Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, trasendental
dan horizontal. Oleh sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat
manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yng berkaitan
dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan diantara manusia,
antara lain :
۞ Menolong, membantu, membina dan
membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi
kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu
melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT.
۞ Memberantas penyakit iri hati,
rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup,
apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran
tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
۞ Dapat mensucikan diri (pribadi)
dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia, menjadi murah
hati, peka terhadap rasa kemanusiaan), dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta
serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena terbebas dari
tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.
۞ Dapat menunjang terwujudnya sistem
kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatan
Wahidan (umat yang
satu), Musawah (persamaan
derajat, dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful
Ijti’ma (tanggung
jawab bersama).
۞ Menjadi unsur penting dalam
mewujudakan keseimbanagn dalam distribusi harta (sosial distribution), dan
keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
۞ Zakat adalah ibadah maaliyah yang
mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT.
dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian
dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan
bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan kaya dengan yang miskin dan
sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan
yang lemah.
۞ Mewujudkan tatanan masyarakat yang
sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai
dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir
bathin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya
kembali bahaya komunisme (atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan
menyesatkan. Sebab dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang
dihadapi kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya
sesuai dengan janji Allah SWT. akan terciptalah sebuah masyarakat yangBaldatun Thoyibun Wa Rabbun Ghafur.
HIKMAH ZAKAT
Ada banyak hikmah yang terkandung dengan diwajibkannya zakat :
1. Sebagai perwujudan iman kepada Allah SWT,
mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kepedulian
yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup,
sekaligus mengembangkan dan mensucikan harta yang dimiliki.
2. Karena zakat merupakan merupakan hak bagi
mustahik, maka berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka -terutama
golongan fakir dan miskin, ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih
sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak,
dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus
menghilangkan sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul dari kalangan
mereka ketika melihat golongan kaya yang berkecukupan hidupnya. Zakat,
sesungguhnya bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumtif yang sifatnya sesaat,
akan tetapi memberikan kecukupan dan kesejahteraan pada mereka, dengan cara
menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan
menderita.
3. Sebagai pilar jama’i antara
kelompok aghniya yang berkecukupan hidupnya, dengan
para mujahid yang waktunya sepenuhnya untuk berjuang di jalan Allah
SWT, sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berusaha bagi kepentingan
nafkah diri dan keluarganya . Allah berfirman dalam surat Al – Baqarah
ayat 273 : “kepada orang-orang fakir yang terikat di jalan Allah;
mereka tidak dapat di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang
kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat
sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja
harta yang baik yang kamu nafkahkan , maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”
4. Sebagai salah satu sumber dana bagi
pembangunan sarana maupun prasarana yang harus dimiliki ummat Islam, seperti
sarana pendidikan, kesehatan, maupun sosial ekonomi dan terlebih lagi bagi
peningkatan kualitas sumber daya manusia.
5. Untuk memasyarakatkan etika bisnis yang benar,
karena zakat tidak akan diterima dari harta yang didapatkan dengan
cara bathil. Zakat mendorong pula ummat Islam untuk
menjadi muzakki yang sejahtera hidupnya.
6. Dari sisi pembangunan kesejahteraan ummat,
zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Zakat yang dikelola
dengan baik, dimungkinkan dapat membangun pertumbuhan ekonomi sekaligus
pemerataan pendapatan. Monzer Kahf menyatakan bahwa zakat dan sistem
pewarisan Islam cenderung kepada distribusi harta yang egaliter, dan bahwa
sebagai akibat dari zakat, harta akan selalu beredar.
Zakat, menurut Mustaq Ahmad, adalah sumber
utama kas negara sekaligus merupakan soko guru dari kehidupan ekonomi yang
dicanangkan Al Qur’an. Zakat akan mencegah terjadinya akumulasi harta pada satu
tangan, dan pada saat yang sama mendorong manusia untuk melakukan investasi dan
mempromosikan distribusi.
Zakat juga merupakan institusi yang
komprehensif untuk distribusi harta, karena hal ini menyangkut harta setiap
muslim secara praktis, saat hartanya telah sampai atau melewati nishab.
Akumulasi harta di tangan seseorang atau sekelompok orang kaya saja, secara
tegas dilarang Allah SWT, sebagaimana firman-Nya : “…agar harta itu
jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”(QS. Al
Hasyr, 59:7).
HIKMAH
PUASA
DALAM
TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN
(Oleh : Fajar Adi Kusumo)
Manusia merupakan makhluk yang tertinggi
derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di
muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan
makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal
sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha
sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini
diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi
kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu
firman-Nya :
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan
ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami
dari siksa api neraka"
(QS. Ali Imran : 191)
Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk
mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun
larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban
menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus
kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman
Allah yaitu :
"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu
berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"
(QS. Al Baqarah : 183)
Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat
banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat
(masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan
mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :
a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)
Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa
hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi
organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan
berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja
mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit
fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.
Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ
pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan
ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara
jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah
SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim
yaitu :
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Berpuasalah maka kamu akan sehat"
(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)
Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah,
Rasulullah bersabda :
"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya
dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"
(HR. Ibnu Majah)
Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini
terbukti antara lain :
1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di
Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat
diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini
juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang
untuk makanan-makanan tertentu.
2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang
berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah
obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah
tinggi, ginjal, dsb.
3. Dr. Alexis Carel seorang dokter
internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran
menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.
4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika
sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan
obat-obat ilmiah.
b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani
menuju kepada sifat-sifat malaikat
Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa
untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari).
Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan
pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan
manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan
makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu
bersih, dan doanya selalu diterima.
Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang
berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat.
Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang
diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :
"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa
mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil,
dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi).
Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin
‘As, Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia
berbuka tersedia doa yang makbul"
(HR. Ibnu Majah)
Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa
adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan
dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi
yaitu :
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :
"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan
karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah
dosa-dosanya.
(HR. Bukhari)
Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari
yaitu :
Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :
"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu
yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan
masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain
mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri.
Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang
dapat masuk"
(HR. Bukhari)
Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa
berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk
pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan
ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik
jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin.
Daftar Pustaka :
- M. Noor Matdawam, Ibadah puasa dan amalan-amalan
di Bulan Suci Ramadhan
- M Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar
Agama
- Maftuh Ahnan, Mutiara Hadits Shahih Bukhari
- Al Qur’an