Kakikat ibadah dan sahadat

by Unknown , at 16.25 , has 0 komentar

Bissmillahirrohmaanirrohiim..

Assalamu'alaikum ikhwah fillah..

Apa kabar imanmu hari ini ?
semoga selalu menapak maju
Apa kabar hatimu hari ini ?
semoga selalu bersih dari debu juga kelabu
Apa kabar cintamu hari ini ?
semoga selalu berpeluh rindu padaNya

yah.. itu sedikit intermezo saja, boleh kan ya.
sipsipsip..

InsyaAllah kali ini saia ingin berbagi lagi, seperti judulnya di atas saia akan berbagi tentang hakikat ibadah.. apa sih sebenernya makna ibadah itu sendiri, lalu apakah kita sudah benar-benar melakukan ibadah secara maksimal?
materi ini saia dapat ketika menghadiri ta'lim pekananan sebelum buka puasa bersama di Masjid Salman Kamis sore lalu, sore kelabu yang dingin (soalnya lagi hujan, hehehe), tapi sarat makna dan ilmu insyaAllah..

Saia akan mencoba menguraikan kembali materi yang saia dapat tentang pengertian ibadah, baik menurut bahasa maupun menurut istilah dan cara kita untuk dapat melakukan ibadah terbaik yang akhirnya Allah tetapkan sebagai pemberat amalan kita pada saat yaumul hisab nanti..

okeh, langsung saja pada pengertian ibadah itu sendiri. ehmm.. sebentar deh, ada satu lagi sebelum melanjutkan membaca, tulisan ini akan sedikit lebih panjang dan mungkin ada beberapa pihak yang akan merasa bosan, bagi yang suka membaca sih insyaAllah fine2 saja, bagi yang mudah merasa bosan dan kurang suka membaca, kali ini jangan bosan ya.. biar bacanya bisa sampe selesai, hehehehe.

=============

"Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(Q.S Adz-dzariyat : 56)


Menurut bahasa ibadah itu adalah...

Yang pertama adalah tidak ada tunduk
sebagai makhluk ciptaan Allah SWT sudah selayaknyalah kita menaati dan mematuhi apa-apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa-apa yang Allah larang karna kita ini hanyalah makhluk yang diciptakan, apakah pantas untuk tidak mentaati dan tidak tunduk kepada Dzat yang menciptakan kita.. apakah pantas bagi kita untuk melanggar smua yang telah ditentukan olehNya.. astaghfirullah, marilah kita renungkan bersama..

Yang kedua adalah sebaga hamba saya
sebagai seorang hamba sahaya sudah sepatutnya mengerjakan semua pekerjaan semata-mata untuk melaksanakan perintah majikannya, begini pula analogi dari ibadah kita kepada Allah, melaksanakan semua pekerjaan semata-mata untuk mendapat ridho dari Allah SWT, insyaAllah..
selain itu, seorang hamba sahaya tidak pernah menganggap apa yang ada pada genggamannya sebagai miliknya, karena sesungguhnya dia pun ada yang memiliki.

Analogi ini juga berlaku bagi kita, namun masih sering kita ,termasuk saia, yang menganggap sesuatu hal adalah kepunyaan kita masing-masing, sehingga ketika hal tersebut hilang dari genggaman kita, terkadang kita masih susah untuk merelakannya. Mungkin inilah salah satu kelemahan kita, tapi marilah kita sama-sama belajar lebih ikhlas lagi ketika suatu cobaan menimpa, insyaAllah ada yang lebih baik ato bahkan terbaik yang Allah persiapkan untuk kita :)


Nah.. kalo secara istilah arti dari ibadah itu sendiri adalah..

Yang pertama, Merendahkan hati dihadapan Allah dengan cara melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya.
Maka ibadah berarti puncak merendahkan hati dan cinta..
Ketika seorang muslim benar-benar memahami makna dari kata-kata ini, maka tidak ada yang akan merasa bangga atas ibadahnya, melainkan semakin tawadhu (rendah hati)..

Yang kedua, sebuah kata yang mencakup semua sikap yang dicintai dan diridhoi Allah, baik perkataan maupun perbuatan, baik lahir maupun batin.
inilah yang disebut ibadah secara universal.
jadi ibadah itu tidak melulu dikaitkan dengan sholat, zakat, puasa, haji, dsb itu..
namun lebih luas lagi cakupannya. misal, ketika kita melakukan suatu hal dengan niat untuk mencari ridho Allah, itu dapat dihitung sebagai suatu ibadah.. namun jelas hal yang dilakukan itu pastilah yang sesuai dengan syariat Islam.. bukan menuju pada kemaksiatan..



Makna kata ibadah sudah kita ketahui, sekarang tinggal bagaimana sih cara kita menggapai ibadah???

sebelum melakukan sesuatu, pastilah kita membutuhkan suatu persiapan, yang baik pastinya kan ya.. begitu juga sebelum kita beribadah, kita harus melewati tahap-tahap persiapan yang baik seperti al-ilmul al-kaafii (bekal ilmu yang cukup),
ini jadi hal yg penting karena ketika kita beribadah tapi tidak tau ilmunya, apalah arti ibadah kita, bahkan bisa jadi karna kita tidak memiliki ilmunya ibadah yang kita lakukan ternyata salah dan malah mengandung kemusyrikan, naudzubillah..

lalu kita juga butuh quwwatul maal (kekuatan harta) dan quwwatul jasad (kekuatan jasad)…

selain itu ada hal penting yang harus kita miliki dan kita laksanakan yaitu ikhlassun niyyah (tujuan yang tulus), kembali ke konteks awal, beribadah hanya mengharap ridho dari Allah SWT, bukan untuk "ini" dan bukan untuk "itu". Ibadah akan sah bila memenuhi dua syarat yaitu prakteknya dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasul dan Al-qur'an serta niatnya benar hanya karna Allah..

yang selanjutnya adalah keinginan yang kuat /cita-cita, di luar konteks ibadah saja untuk mendapatkan hasil maksimal sesuai dengan cita-cita yang kita harapkan kita harus tau betul seberapa kuat keinginan kita untuk mencapai hal tersebut, dengan usaha maksimal dan atas izin Allah baru lah keinginan tersebut tercapai, begitu juga dengan ibadah..


Setelah persiapan yang dilakukan dengan baik tadi terlaksana, maka masuk ke tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan ibadah.  Ibadah yang dilakukan haruslah khusnul adab alias dengan cara yang baik..
Secara zhahir (yang tampak) khusnul adab berarti menyempurnakan segala tata cara ibadah sesuai dengan tuntunan syariat.Misal, sebelum sholat wudhu kita haruslah sempurna dan ketika sholat gerakan dan bacaan dilakukan secara sempurna pula..

Ada sebuah kisah mengenai wudhu, sahabat rasul pernah ditegur oleh rasul untuk mengulang wudhunya sebelum sholat. Ketika ia sudah wudhu untuk kedua kalinya rasul menyuruhnya untuk kembali berwudhu, kira-kira tiga kali sahabat tersebut mengulang wudhunya, sampai akhirnya ia bertanya kepada rasul mengapa ia harus kembali mengulang wudhunya sampai berkali-kali, dan rasul pun memberitahu kepada sahabat tersebut bahwa ada bagian yang belum terkena air wudhu.. begitu pentingnya pelaksanan yang baik saat melaksanakan suatu ibadah, karna bisa jadi dari hal kecil yang tertinggal atau terlupa akan membuat pahala ibadah kita berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali...

sedangkan secara batin khusnul adab itu berupa mahabbah (cinta), khauf (takut), rojaa (harapan) dan hayaa (malu)..

Mahabbah..
Barengilah ibadah kita dengan cinta kepada Allah. Jadi inget note saia yang dulu "Ketika 'ia' Menghampiri". Ketika kita mencintai suatu hal entah itu benda mati ataukah sesama makhluk hidup, kita tak ingin mereka jauh dari kita, tujuan kita fokus pada hal-hal tersebut bukan, selain itu kita bisa melakukan apa saja demi sesuatu yang kita cintai, begitupun dengan ibadah..
ketika kita sudah mencintai Allah, menghadirkanNya dalam hati-hati kita, bagaimanapun kondisinya insyaAllah kita tetap akan melakukan yang terbaik ketika ibadah.

Ada sebuah kisah lagi-lagi tentang sahabat rasul yang subhanallah..
suatu malam dua orang sahabat kalau tidak salah sedang berjaga di malam hari, mereka berdua merasa sangat lelah sekali dan memutuskan untuk beristirahat.
waktu istirahat mereka isi dengan Qiyamul Lail, karna mereka hanya berdua akhirnya mereka memutuskan untuk sholat bergantian, dikala yang satu sedang sholat, ternyata yang satu lagi malah tertidur tepat di bawah yang satunya saking lelahnya.
sahabat yang sedang sholat ini begitu menikmati sholat malamnya, dengan bacaan tartil dan suara yang nyaring ia terus melanjutkan sholatnya.
Tiba-tiba ada musuh yang mendengar bacaan al-qur'an yang dibaca oleh sahabat yang sedang sholat, dan musuh tersebut akhirnya meluncurkan anak panahnya dan tepat mengenai dada sahabat yang sedang sholat.
Satu anak panah tertancap di dada, tapi ia masih melanjutkan sholatnya.
Musuh menembakkan anak panah kedua dan mengenai dada sahabat yang sedang sholat lagi, namun ia tetap melanjutkan sholatnya, bahkan tidak mempengaruhi bacaan sholatnya yang nyaring.
Sampai pada anak panah yang ketiga yang menancap di dada sahabat tersebut, ia masih tetap menikmati sholat malamnya. Sampai akhirnya musuh pun menyerah dan pergi.
Tak lama kemudian sahabat yang tertidur tepat di bawah sahabat yang sedang sholat terbangun.
Bukan karna mendengar musuh yang pergi atau mendengar bacaan sholat sahabat yang begitu nyaring dan khusyu sekali, tapi karna wajahnya terkena tetesan darah dari tiga anak panah yang tertancap di dada sahabatnya.
Ia bingung dan merasa sangat kaget, bisa-bisanya tiga anak panah tertancap di dada sahabatnya, tapi sahabatnya itu tak merasa sakit dan tidak menghentikan sholatnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sampai sahabatnya selesai sholat.
Selepasa salam terakhir diucapkan ia buru-buru menanyakan perihal tersebut kepada sahabatnya.
"Apa yang terjadi hingga saat kau sholat kau tidak menghentikan sholatmu sementara tiga anak panah menancap di dadamu wahai sahabat?"
"Aku hanyalah manusia, sakit memang kurasakan saat tiga anak panah itu menancap di dadaku, tapi.. nikmatnya sholat malamku mengalahkan rasa sakit anak panah itu."

Subhanallah sekali ya', karna cintanya kepada Allah, cintanya kepada ibadah sholatnya, ia sanggup melawan rasa sakit tersebut dan menyelesaikan sholatnya..

Khauf..
ketika beribadah, hadirkanlah perasaan takut dengan mengingat dosa-dosa yang sudah kita lakukan.

Rojaa..
Setelah rasa takut itu hadir, hadirkan pula perasaan rojaa (harapan)..
berharap ibadah-ibadah kita diterima, berharap Allah masih terus membukakan pintu ampunan dan akan selalu membentangkan pintu-pintu hidayahnya.

Hayaa..
Malu disini bukanlah malu untuk menjalankan ibadah. Tapi malu kepada Allah atas sikap kita selama ini. Begitu banyak karunia yang Dia berikan tapi kita masih saja kurang bersyukur atas semuanya. Nah.. ibadah inilah yang dijadikan sebagai salah satu sarana untuk bersyukur atas segala nikmat yang telah Allah berikan..

Setelah ibadah sudah dilakukan buatlah penutup ibadah yang baik salah satunya adalah dengan bersyukur. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk beribadah, masih diberi kesehatan hingga mampu menjalankan ibadah dengan baik. Cara bersyukurnya adalah dengan melakukan ibadah-ibadah lainnya..

Lalu kita juga harus merasa takut, ato was-was apakah ibadah kita tadi diterima atau tidak. Karena salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah ketika selesai melakukan ibadah timbul rasa takut di dalam hatinya.


Namun, tidak hanya rasa takut yang kita hadirkan ketika selesai melakukan suatu ibadah, tapi berharaplah kepada Allah..
karna ketika kita hanya merasa takut kalau-kalau ibadah kita tak diterima itu hanya akan membuat kita menjadi seseorang yang pesimis..
jadi, berharaplah.


Nah, tak lupa untuk bermuhasabah juga.
melihat sejauh mana pengaruh ibadah-ibadah tadi terhadap kehidupan kita.
Karena setiap ibadah itu memiliki tujuannya tersendiri lho..
misalnya nih, sholat itu kan mencegah perbuatann keji dan mungkar, nah.. apakah setelah kita melakukan ibadah tersebut dari kecil kita sudah terjauhi dari perbuatan yang keji dan mungkar?
jika belum, telaahlah dimana letak kesalahannya, apa mungkin ibadah tadi masih kurang maksimal atau ada penyebab lain, misal niatnya yang masih bukan karna Allah..


Nah.. yang terakhir adalah menjaga  amal-amal yang kita lakukan dari yang merusaknya.  Berusaha beristiqomah atas ibadah-ibadah yang telah kita lakukan, dan sekali lagi mengharap ridho Allah SWT. Karena walaupun kita menjadi ahli ibadah di dunia namun kenyataannya masih saja kita mendzholimi orang lain, maka tak ada artinya ibadah yang kita lakukan. hanya menjadi orang-orang yang merugi.. naudzubillah..

semoga kita semua bisa melakukan ibadah-ibadah terbaik dan ibadah tersebut memberikan feedback yang positif untuk melakukan ibadah-ibadah lainnya..
amin.

=============

yup, sekian tulisan yang bisa saia bagikan kali ini.
smoga apa yang saia dapat dan saia tulis kembali ini bisa bermanfaat tak hanya bagi saia pribadi tapi juga bagi kita semua..
bukan berarti saia menulis ini karna ibadah saia sudah perfect, tapi ini sebagai bahan pengingat diri dikala ibadah-ibadah yang saia lakukan masih saja belum maksimal.. insyaAllah.

jika ada kesalahan dalam catatan saia ini, mohon dikoreksi..
karena saia pun masih butuh ilmu yang lebih banyak lagi.

jika memang benar, semata-mata karna Allah..
karena Dialah yang menguasai semua ilmu.










Hikmah syahadat
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia berkata:
Rasulullah saw. dan Muaz bin Jabal berboncengan di atas tunggangan. Rasulullah saw. bersabda: Hai Muaz. Muaz menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. memanggil lagi: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Sekali lagi Rasulullah saw. memanggil: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw. bersabda: Setiap hamba yang bersaksi bahwa: Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka Allah mengharamkan api neraka atasnya. Muaz berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan hal ini kepada orang banyak agar mereka merasa senang? Rasulullah saw. bersabda: Kalau engkau kabarkan, mereka akan menjadi sebagai andalan. [HR Muslim]

Hikmah Syahadat sebagai Rukun Islam pertama

Ingatlah selalu bahwa bila seseorang menyatakan kalau ia beriman pada Tuhan yang Maha Esa, yang tanpa sekutu, serta beriman kepada Rasulullah Muhammad saw. serta meyakini segala hal lain berkaitan dengan agama, tetapi realitasnya pernyataan itu hanya merupakan ucapan di bibir semata dan hatinya tidak mengakuinya, maka pernyataan demikian tidak akan membawa keselamatan baginya.
Keselamatan tidak akan diperoleh sampai suatu saat hati telah mengimani dan hal demikian menjadi nyata jika perilaku dan amal perbuatan yang bersangkutan membuktikannya. Sampai keadaan demikian tercapai, tidak ada sesuatu yang telah dicapai. Sesungguhnya aku nyatakan dengan sebenarnya bahwa tujuan hakiki baru akan bisa tercapai jika seseorang yang berpaling kepada Tuhan telah meninggalkan segala yang akan menjadi gangguan, ketika agama sudah diberikan prioritas utama di atas segala aktualitas duniawi.
Ingatlah! Seseorang bisa saja menipu mahluk lainnya. Orang bisa terkecoh pandangannya melihat seseorang melakukan shalat lima kali sehari atau melakukan beberapa amal baik lainnya, namun Tuhan tidak bisa ditipu. Karena itu amal saleh harus dilakukan dengan ketulusan yang murni karena hal inilah yang menambah keindahan dari amal tersebut.
Patut selalu diingat mengenai makna dari Kalimah Shahadat yang kita ucapkan setiap hari. Dengan Kalimah itu seseorang mengikrarkan secara lisan dan bersaksi dengan hatinya bahwa baginya Sang Maha Esa yang patut disembah dan dikasihi adalah Wujud Tunggal yang menjadi tujuan hakiki.
Dialah Allah swt dan tak ada sesuatu apa pun selain Dia. Arti kata Ilaha dalam Kalimah tersebut mengandung makna ‘yang terkasih’, ‘wujud yang menjadi tujuan hakiki’ dan ‘wujud yang disembah dan dihormati.’
Pernyataan itu merupakan inti keseluruhan ajaran Al-Quran dalam bentuk paling padat yang diajarkan kepada umat Muslim. Karena tidak mudah menghafal kitab yang demikian tebal dan rinci, Kalimah ini diajarkan agar setiap orang tetap bisa memelihara esensi ajaran Islam secara konstan dalam fikirannya. Sesungguhnya sebelum semua realitas itu berakar dalam kalbu manusia, maka tidak ada keselamatan baginya. Karena itulah Hazrat Rasulullah saw. menyatakan: ‘Barangsiapa yang mengikrarkan bahwa tidak ada tuhan/yang disembah/diibadahi selain Allah, ia akan masuk surga.’ Dengan kata lain, seseorang yang sepenuhnya mengimani ‘la ilaha illallah’ maka ia akan masuk ke dalam surga.
Sebenarnya manusia menipu dirinya sendiri jika mengira bahwa mengulang-ulang suatu kata seperti burung beo, akan memberi mereka kemudahan masuk surga. Jika realitas memang demikian adanya maka semua amal akan menjadi mubazir dan sia-sia dan Shariah bisa dianggap, naudzubillah, tidak relevan.
Nyatanya tidak demikian adanya. Yang patut diperhatikan ialah makna yang terkandung di dalamnya haruslah meresap ke dalam hati saat pengamalannya. Jika hal ini bisa tercapai maka benar bahwa yang bersangkutan telah masuk surga, bukan setelah kematian, tetapi sekarang juga dalam kehidupan kini yang bersangkutan telah memasuki surga. (Malfuzat, vol. 9, h.102 – 104)
Yang dikemukakan di atas ini adalah kompilasi ekstraksi yang diambil dari Malfuzat. Malfuzat adalah judul dari sepuluh jilid buku yang berisi kumpulan diskursus, khutbah dan nasihat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. dari Qadian, Masih Maud dan Imam Mahdi.

Manfaat shalat secara umum:
1.    Memperbaiki otot punggung.
2.    Memperbaiki jaringan otot tubuh.
3.    Mengembalikan keseimbangan tubuh pasca bedah tulang.
4.    Menyembuhkan otot/tulang yang terkilir.
5.    Menyehatkan urat nadi dan hati.
6.    Mengurangi resiko tekanan darah tinggi.
7.    Melancarkan saluran pernapasan lewat bacaan shalat.
8.    Memperlancar peredaran darah.
9.    Membuat tulang mampu menyerap lebih banyak kalsium.
10.                       Membakar lemak di bagian perut.
11.                       Menghindari proses penuaan dini.
Manfaat sujud:
1.    Memperkuat tulang dan otot terutama pada bagian paha, tumit dan kaki.
2.    Mengoptimalkan ketahanan fisik.
3.    Melancarkan peredaran darah.
4.    Mempermudah proses persalinan dan menghindari posisi bayi sungsang pada wanita hamil.
5.    Mencegah kenaikan kadar kolestrol dalam darah.
6.    Memperbaiki fungsi pencernaan.
7.    Sarana latihan pernapasan.
8.    Membersihkan sel darah putih dan sel darah merah.
9.    Menyiapkan diri secara psikologis dalam menghadapi tantagan hidup.
Manfaat shalat subuh pada waktunya:
1.    Mengoptimalikan fungsi urat syaraf.
2.    Menenangkan jiwa.
3.    Menjernihkan pikiran.
4.    Awet muda.

Manfaat Shalat dari Segi Psikologi:
·                                 Menjernihkan jiwa.
·                                 Mencapai kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness).
·                                 Mencapai pengalaman puncak (peak experience).
·                                 Mengurangi kecemasan lewat:
1.                            meditasi/doa yang teratur
2.                            relaksasi dengan gerakan shalat
3.                            hetero/auto sugesti dalam bacaan shalat
4.                            group therapy dalam shalat jamaah, atau bahkan dalam shalat sendiri ada saya dan Allah
5.                            hydro therapy dengan berwudhu
·                                 Mengembalikan kesadaran dengan bermi'raj menuju kepada ketinggian Ilahi Rabbi.
·                                 Melepaskan diri dari pengaruh alam yang lebih rendah.
·                                 Bertemu Allah.
·                                 Meringankan ketegangan jiwa.
·                                 Membuat pelaku shalat mampu meninggalkan pekerjaan yang buruk.
·                                 Menumbuhkan kedermawanan dan keberanian pada pelakunya.
·                                 Menumbuhkan sifat saling tolong menolong.
·                                 Symbol persamaan dan kebersamaan.

Manfaat Medis Shalat Tahajjud:
Hadits: shalat tahajjud dapat menghapus dosa, mendatangkan ketenangan, dan menghindakan dari penyakit (HR Tirmidzi).

Ketenangan akan:
1.    Meningkatkan ketahanan tubuh (Imunologik).
2.    Mengurangi resiko serangan jantung.
3.    Meningkatkan usia harapan
4.    Menghilangkan rasa nyeri pada pasien kanker.
5.    Alternatif anastesis pra-bedah.


 Manfaat medis lain tahajjud:
1.    Menjadikan wajah cemerlang dan bersinar.
2.    Mengobati sakit pada tubuh.
3.    Melancarkan peredaran darah , terutama pada syaraf otak dan punggung.
4.    Sujud di shalat tahajjud membuat sel-sel darah dalam otak menjadi bersih dan segar.
5.    Shalat tahajjud yang disertai niat ikhlas, khusyu, tepat waktu dan terus menerus akan menghindarkan stress, memperbaiki system imun, dan menghindarkan dari infeksi dan kanker, sedangkan shalat tahajjud yang tidak disertai niat yang iklas, tidak khuyu, tidak tepat waktu dan tidak terus menerus dapat menimbulkan stress, menimbulkan rasa sakir dan penyakit, memperburuk system imun, dan rentan terkena infeksi dan kanker.

Manfaat shalat tahajjud dalam rangka pemeliharaan homeostatis:
1.    Terkabulnya doa
2.    Terjawabnya permintaan
3.    Diampuninya dosa
4.    Menyambung komunikasi dengan Allah

Bukan tanpa maksud Allah menempatkan shalat dengan segala hal yang berhubungan dengannya sampai Dia menerbangkan rasul ke keluasan tanpa batas di sidratul muntaha. Karena, cukuplah pertemuan dengan Allah yang maha kasih yang akan menggenapkan kita dari segala butuh, di dunia dan akhirat.

Hikmah Shalat Dalam Kehidupan Umat
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Ali Imran 191)
Shalat merupakan ibadah yang penting dan utama bagi umat Islam. Begitu pentingnya shalat sehingga untuk memberikan perintah shalat Allah berkenan memanggil sendiri Rasulullah SAW untuk menghadap-Nya secara langsung. Sedangkan untuk perintah-perintah Allah yang lain selalu disampaikan kepada Rasulullah melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena shalat merupakan ibadah yang terpenting bagi kehidupan umat, maka tentulah banyak mengandung hikmah baik ditinjau secara moral (rohani) maupun fisik (jasmani).
1. Tinjauan dari segi moral
Shalat merupakan benteng hidup kita agar jangan sampai terjerumus ke dalam perbuatan keji dan munkar. Hal ini tampak jelas dalam firman Allah SWT :
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar"
(QS. Al Ankabut 45)
Shalat yang khusu’ mewujudkan suatu ibadah yang benar-benar ikhlas, pasrah terhadap zat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Di dalam shalat tersebut kita meminta segala sesuatu dari-Nya, memohon petunjuk untuk mendapatkan jalan yang lurus, mendapat limpahan rahmat, rizki, barokah dan pahala dari-Nya. Oleh karena itu orang yang shalatnya khusu’ dan ikhlas karena Allah SWT akan selalu merasa dekat kepada-Nya dan tidak akan menghambakan diri, tidak akan menjadikan panutan selain daripada Allah SWT. Dengan kata lain segala sesuatu yang dilakukan hanyalah karena Allah dan hanya untuk mendapatkan ridlo’ dari Allah. Maka pantaslah jika Allah berfirman :
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu) orang-orang yang khusu’ dalam sembahyangnya"
(QS. Al Mu’minuun 1-2)
Disamping itu shalat juga membersihkan jiwa dari sifat-sifat yang buruk, khususnya cara-cara hidup yang materialis yang menjadikan urusan duniawi lebih penting dari segala-galanya termasuk ibadah kepada Allah. Kebersihan dan kesucian jiwa ini digambarkan dalam sebuah hadits :
"Jikalau di pintu seseorang diantara kamu ada sebuah sungai dimana ia mandi lima kali, maka apakah akan tinggal lagi kotorannya (yang melekat pada tubuhnya) ? Bersabda Rasulullah saw : ‘Yang demikian itu serupa dengan shalat lima waktu yang (mana) Allah dengannya (shalat itu) dihapuskan semua kesalahan’."
(HR. Abu Daud)
Yang dimaksud kesalahan disini adalah yang berupa dosa-dosa kecil, sedangkan yang berupa dosa besar tetap wajib dengan bertaubat kepada Allah.
Jadi pada hakekatnya shalat itu mendidik jiwa kita agar terhindar dari sifat-sifat takabur, sombong, tinggi hati, dan sebagainya, serta mengarahkan kita agar selalu tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT. Hal ini karena pada dasarnya manusia selalu berkeluh kesah apabila ditimpa kesusahan dan bersifat kikir apabila mendapat kebaikan, ini sesuai dengan salah satu firman Allah :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah dan apabila ia mendapat kebaikan ia amat kikir kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat, yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya" (QS. Al Ma’aarij)
Apabila kita mendapat suatu musibah maupun kesulitan, maka kita harus memohon pertolongan kepada Allah dengan mengerjakan shalat dan bersabar serta tawakal.
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusu’."
(QS. Al Baqarah 45)
"Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al Baqarah 153)
Di dalam salah satu firman-Nya Allah juga menegaskan nilai positif dari shalat :
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram"
(QS. Ar Ra’d 28)
Disamping hal-hal diatas, shalat juga membina rasa persatuan dan persaudaraan antara sesama umat Islam. Hal ini dapat kita lihat antara lain, apabila seseorang shalat tidak dalam keadaan yang khusus pasti selalu menghadap kiblat yaitu Ka’bah di Masjidil Haram Mekah. Umat Islam di seluruh dunia mempunyai satu pusat titik konsentrasi dalam beribadah dan menyembah kepada Khaliq-nya yaitu Ka’bah, hal ini akan membawa dampak secara psikologis yaitu persatuan, kesatuan, dan kebersamaan umat. Contoh lain adalah pada shalat berjamaah, shalat berjamaah juga mengandung hikmah kebersamaan, persatuan, persaudaraan dan kepemimpinan dimana pada setiap gerakan shalat ma’mum mempunyai kewajiban mengikuti gerakan imam, sedangkan imam melakukan kesalahan, maka ma’mum wajib mengingatkan. Sehingga pada shalat berjamaah keabsahan maupun kebenaran dalam shalat lebih terjamin, dan diantara jama’ah akan timbul rasa kebersamaan dan persatuan untuk menyelamatkan jama’ah mereka. Ibarat orang berkendaraan, penumpang akan selalu ikut menjaga keamanan dan keselamatan kendaraan yang ditumpanginya. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika shalat berjamaah mendapatkan tempat yang lebih dibandingkan dengan shalat sendiri. Hal ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
"Shalat berjamaah lebih utama (pahalanya) dua puluh derajat" (HR. Bukhary & Muslim dari Ibnu Umar)
2. Tinjauan dari segi fisik (kesehatan)
Shalat disamping mengandung hikmah secara moral seperti diuraikan diatas, juga mengandung hikmah secara fisik terutama yang menyangkut masalah kesehatan.
Hikmah shalat menurut tinjauan kesehatan ini dijelaskan oleh DR. A. SABOE yang mengemukakan pendapat ahli-ahli (sarjana) kedokteran yang termasyhur terutama di barat. Mereka berpendapat sebagai berikut :
a) Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas pergelangan tangan kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua tangan sebab sendi-sendi, otot-otot kedua tangan berada dalam posisi istirahat penuh. Sikap seperti ini akan memudahkan aliran darah mengalir kembali ke jantung , serta memproduksi getah bening dan air jaringan dari kedua persendian tangan akan menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam persendian akan menjadi lebih lancar. Hal ini akan menghindari timbulnya bermacam-macam penyakit persendian seperti rheumatik. Sebagai contoh, orang yang mengalami patah tangan, terkilir maka tangan/lengan penderita tersebut oleh dokter akan dilipatkan diatas dada ataupun perut dengan mempergunakan mitella yang disangkutkan di leher.
b) Ruku’, yaitu membungkukkan badan dan meletakkan telapak tangan diatas lutut sehingga punggung sejajar merupakan suatu garis lurus. Sikap yang demikian ini akan mencegah timbulnya penyakit yang berhubungan dengan ruas tulang belakang, ruas tulang pungung, ruas tulang leher, ruas tulang pinggang, dsb.
c) Sujud, sikap ini menyebabkan semua otot-otot bagian atas akan bergerak. Hal ini bukan saja menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat, tetapi peredaran urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah serta limpa akan menjadi lancar di tubuh kita. Dengan sikap sujud ini maka dinding dari urat-urat nadi yang berada di otak dapat dilatih dengan membiasakan untuk menerima aliran darah yang lebih banyak dari biasanya, karena otak (kepala) kita pada waktu itu terletak di bawah. Latihan semacam ini akan dapat menghindarkan kita mati mendadak dengan sebab tekanan darah yang menyebabkan pecahnya urat nadi bagian otak dikarenakan amarah, emosi yang berlebihan, terkejut dan sebagainya yang sekonyong-konyong lebih banyak darah yang di pompakan ke urat-urat nadi otak yang dapat menyebabkan pecahnya urat-urat nadi otak, terutama bila dinding urat-urat nadi tersebut telah menjadi sempit, keras, dan rapuh karena dimakan usia.
d) Duduk Iftrasy (duduk antara dua sujud & tahiyat awal), posisi duduk seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha , hal ini mengakibatkan pangkal paha terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang menyebabkan tidak dapat berjalan. Disamping itu urat nadi dan pembuluh darah balik di sekitar pangkal paha dapat terurut dan tirpijit sehingga aliran darah terutama yang mengalir kembali ke jantung dapat mengalir dengan lancar. Hal ini dapat menghindarkan dari pengakit bawasir.
e) Duduk tawaruk (tahiyat akhir), duduk seperti ini dapat menghindarkan penyakit bawasir yang sering dialami wanita yang hamil. Kemudian duduk tawaruk ini juga dapat untuk mempermudah buang air kecil.
f) Salam, diakhiri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini sangat berguna untuk memperkuat otot-otot leher dan kuduk, selain itu dapat pula untuk menghindarkan penyakit kepala dan kuduk kaku.
Dari penjelasan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa sholat disamping merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat manusia.
(Oleh : Fajar Adi Kusumo)
Daftar Pustaka :
- Drs. M. Noor Matdawam, Bersuci, Shalat, dan Butir-butir Hikmahnya
- Syeh Mustofa Masyhur, Berjumpa Allah Lewat Shalat
- DEPAG RI, Al Qur’an & Terjemahannya
1.                              Pembersih diri dan harta dari segala sifat-sifat kikir, bakhil dan sejenisnya. (QS.9:103).
2.                              Mendapat pahala yang besar (QS.4:162).
3.                              Zakat membersihkan harta. “Allah SWT telah menjadikan zakat itu sebagai pemberish bagi harta”. (HR. Bukhari).
4.                              Orang yang berzakat termasuk dalam 7 golongan yang dinaungi Allah SWT di hari kiamat. “Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah pada hari kiamat kelak”… (salah satu diantaranya) adalah orang yang bersedekah dengan merahasiakannya agar keikhlasannya terjaga”. (HR. Bukhari).
5.                              Merasakan cita rasa iman. “Ada tiga hal, barang siapa yang melakukan tiga hal itu, niscaya dia merasakan cita rasa iman:…(salah satunya) ialah mengeluarkan zakat hartanya dengan hati yang baik dan ikhlas…” (HR. Abu Daud).
6.                              Menumbuhsuburkan harta (Semakin bertambah dan berkembang). (QS.2:261).
7.                              Membantu meringankan bebean kaum fakir/miskin. “Allah SWT mewajibkan bagi orang-orang kaya muslim agar mengeluarkan sebagian harta mereka untuk membantu fakir miskin diantara mereka. Para fakir miskin tidak akan mempu berjihat dalam keadaan lapar kecuali mereka dibantu orang-orang kaya yang ada diantara mereka…”(HR. Thabrani).
8.                              Zakat memelihara harta orang kaya. “Peliharalah hartamu dengan zakat, obati orang-orang sakit dengan sedekah dan tolaklah bala’ dengan do’a”. (HR. Thabrani dan Ibnu Mas’ud).


Zakat merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yng berkaitan dengan Sang Khaliq maupun hubungan sosial kemasyarakatan diantara manusia, antara lain :
۞      Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT.
۞      Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
۞      Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan akhlaq mulia, menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan), dan mengikis sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan bathin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan, akan selalu melingkupi hati.
۞      Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas prinsip-prinsip: Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, dan dan kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful Ijti’ma (tanggung jawab bersama).
۞      Menjadi unsur penting dalam mewujudakan keseimbanagn dalam distribusi harta (sosial distribution), dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam masyarakat.
۞      Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi atau pemerataan karunia Allah SWT. dan juga merupakan perwujudan solidaritas sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam, pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara golongan yang kuat dengan yang lemah.
۞      Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan situasi yang tentram, aman lahir bathin. Dalam masyarakat seperti itu takkan ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali bahaya komunisme (atheis) dan paham atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab dengan dimensi dan fungsi ganda zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT. akan terciptalah sebuah masyarakat yangBaldatun Thoyibun Wa Rabbun Ghafur.

HIKMAH ZAKAT

Ada banyak hikmah yang terkandung dengan diwajibkannya zakat :

1.       Sebagai perwujudan iman kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan memiliki rasa kepedulian yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus, menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus mengembangkan dan mensucikan harta yang dimiliki.
2.       Karena zakat merupakan merupakan hak bagi mustahik, maka berfungsi untuk menolong, membantu dan membina mereka -terutama golongan fakir dan miskin, ke arah kehidupan yang lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya kekufuran, sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin timbul dari kalangan mereka ketika melihat golongan kaya yang berkecukupan hidupnya. Zakat, sesungguhnya bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumtif yang sifatnya sesaat, akan tetapi memberikan kecukupan dan kesejahteraan pada mereka, dengan cara menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka menjadi miskin dan menderita.
3.       Sebagai pilar jama’i antara kelompok aghniya yang berkecukupan hidupnya, dengan para mujahid yang waktunya sepenuhnya untuk berjuang di jalan Allah SWT, sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berusaha bagi kepentingan nafkah diri dan keluarganya . Allah berfirman dalam surat Al – Baqarah ayat 273 : “kepada orang-orang fakir yang terikat  di jalan Allah; mereka tidak dapat  di bumi; orang yang tidak tahu menyangka mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan , maka sesungguhnya Allah Maha Mengatahui.”
4.       Sebagai salah satu sumber dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang harus dimiliki ummat Islam, seperti sarana pendidikan, kesehatan, maupun sosial ekonomi dan terlebih lagi bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
5.       Untuk memasyarakatkan etika bisnis yang benar, karena zakat tidak akan diterima dari harta yang didapatkan dengan cara bathil. Zakat mendorong pula ummat Islam untuk menjadi muzakki yang sejahtera hidupnya.
6.       Dari sisi pembangunan kesejahteraan ummat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan pendapatan. Zakat yang dikelola dengan baik, dimungkinkan dapat membangun pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan. Monzer Kahf menyatakan bahwa zakat dan sistem pewarisan Islam cenderung kepada distribusi harta yang egaliter, dan bahwa sebagai akibat dari zakat, harta akan selalu beredar.

Zakat, menurut Mustaq Ahmad, adalah sumber utama kas negara sekaligus merupakan soko guru dari kehidupan ekonomi yang dicanangkan Al Qur’an. Zakat akan mencegah terjadinya akumulasi harta pada satu tangan, dan pada saat yang sama mendorong manusia untuk melakukan investasi dan mempromosikan distribusi.
Zakat juga merupakan institusi yang komprehensif untuk distribusi harta, karena hal ini menyangkut harta setiap muslim secara praktis, saat hartanya telah sampai atau melewati nishab. Akumulasi harta di tangan seseorang atau sekelompok orang kaya saja, secara tegas dilarang Allah SWT, sebagaimana firman-Nya :  “…agar harta itu jangan hanya beredar di antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”(QS. Al Hasyr, 59:7).

HIKMAH PUASA
DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN
(Oleh : Fajar Adi Kusumo)
Manusia merupakan makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak. Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :
"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka"
(QS. Ali Imran : 191)
Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :
"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"
(QS. Al Baqarah : 183)

Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :
a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)
Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.
Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Berpuasalah maka kamu akan sehat"
(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)
Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"
(HR. Ibnu Majah)
Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :
1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.
2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.
3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.
4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.
b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat
Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.
Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :
"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi).
Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul"
(HR. Ibnu Majah)
Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :
"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.
(HR. Bukhari)
Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :
Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :
"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk"
(HR. Bukhari)
Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin.

Daftar Pustaka :
- M. Noor Matdawam, Ibadah puasa dan amalan-amalan di Bulan Suci Ramadhan
- M Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama
- Maftuh Ahnan, Mutiara Hadits Shahih Bukhari
- Al Qur’an

 

Kakikat ibadah dan sahadat
About
Kakikat ibadah dan sahadat - written by Unknown , published at 16.25 . And has 0 komentar
0 komentar Add a comment
Bck
Cancel Reply