Bissmillahirrohmaanirrohiim..
Assalamu'alaikum ikhwah fillah..
Apa kabar imanmu hari ini ?
semoga selalu menapak maju
Apa kabar hatimu hari ini ?
semoga selalu bersih dari debu juga kelabu
Apa kabar cintamu hari ini ?
semoga selalu berpeluh rindu padaNya
yah.. itu sedikit intermezo saja, boleh kan ya.
sipsipsip..
InsyaAllah kali ini saia ingin berbagi lagi, seperti
judulnya di atas saia akan berbagi tentang hakikat ibadah.. apa sih
sebenernya makna ibadah itu sendiri, lalu apakah kita sudah benar-benar
melakukan ibadah secara maksimal?
materi ini saia dapat ketika menghadiri ta'lim pekananan
sebelum buka puasa bersama di Masjid Salman Kamis sore
lalu, sore kelabu yang dingin (soalnya lagi hujan, hehehe), tapi sarat makna dan ilmu
insyaAllah..
Saia akan mencoba menguraikan kembali materi yang saia
dapat tentang pengertian ibadah, baik menurut bahasa maupun menurut istilah dan
cara kita untuk dapat melakukan ibadah terbaik yang akhirnya Allah tetapkan
sebagai pemberat amalan kita pada saat yaumul hisab nanti..
okeh, langsung saja pada pengertian ibadah itu sendiri.
ehmm.. sebentar deh, ada satu lagi sebelum melanjutkan membaca, tulisan ini
akan sedikit lebih panjang dan mungkin ada beberapa pihak yang akan merasa
bosan, bagi yang suka membaca sih insyaAllah fine2 saja, bagi yang mudah merasa
bosan dan kurang suka membaca, kali ini jangan bosan ya.. biar bacanya bisa
sampe selesai, hehehehe.
=============
"Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku."
(Q.S Adz-dzariyat : 56)
Menurut bahasa ibadah itu adalah...
Yang pertama adalah tidak ada tunduk
sebagai makhluk ciptaan Allah SWT sudah selayaknyalah
kita menaati dan mematuhi apa-apa yang Allah perintahkan dan menjauhi apa-apa
yang Allah larang karna kita ini hanyalah makhluk yang diciptakan, apakah
pantas untuk tidak mentaati dan tidak tunduk kepada Dzat yang menciptakan
kita.. apakah pantas bagi kita untuk melanggar smua yang telah ditentukan
olehNya.. astaghfirullah, marilah kita renungkan bersama..
Yang kedua adalah sebaga hamba saya
sebagai seorang hamba sahaya sudah sepatutnya mengerjakan
semua pekerjaan semata-mata untuk melaksanakan perintah majikannya, begini pula
analogi dari ibadah kita kepada Allah, melaksanakan semua pekerjaan semata-mata
untuk mendapat ridho dari Allah SWT, insyaAllah..
selain itu, seorang hamba sahaya tidak pernah menganggap
apa yang ada pada genggamannya sebagai miliknya, karena sesungguhnya dia pun ada yang memiliki.
Analogi ini juga berlaku bagi kita, namun masih sering
kita ,termasuk saia, yang menganggap sesuatu hal adalah kepunyaan kita
masing-masing, sehingga ketika hal tersebut hilang dari genggaman kita,
terkadang kita masih susah untuk merelakannya. Mungkin inilah salah satu
kelemahan kita, tapi marilah kita sama-sama belajar lebih ikhlas lagi ketika
suatu cobaan menimpa, insyaAllah ada yang lebih baik ato bahkan terbaik yang
Allah persiapkan untuk kita :)
Nah.. kalo secara
istilah arti dari ibadah itu sendiri adalah..
Yang pertama, Merendahkan
hati dihadapan Allah dengan cara melakukan segala perintah-Nya dan menjauhi
segala larangan-Nya.
Maka ibadah berarti puncak merendahkan hati dan cinta..
Ketika seorang muslim benar-benar memahami makna dari
kata-kata ini, maka tidak ada yang akan merasa bangga atas ibadahnya, melainkan
semakin tawadhu (rendah hati)..
Yang kedua, sebuah kata
yang mencakup semua sikap yang dicintai dan diridhoi Allah, baik perkataan
maupun perbuatan, baik lahir maupun batin.
inilah yang disebut ibadah secara universal.
jadi ibadah itu tidak melulu dikaitkan dengan sholat,
zakat, puasa, haji, dsb itu..
namun lebih luas lagi cakupannya. misal, ketika kita
melakukan suatu hal dengan niat untuk mencari ridho Allah, itu dapat dihitung
sebagai suatu ibadah.. namun jelas hal yang dilakukan itu pastilah yang sesuai
dengan syariat Islam.. bukan menuju pada kemaksiatan..
Makna kata ibadah sudah kita ketahui, sekarang tinggal
bagaimana sih cara kita menggapai ibadah???
sebelum melakukan sesuatu, pastilah kita membutuhkan
suatu persiapan, yang baik pastinya kan ya.. begitu juga sebelum kita
beribadah, kita harus melewati tahap-tahap persiapan yang baik seperti al-ilmul al-kaafii (bekal ilmu yang cukup),
ini jadi hal yg penting karena ketika kita beribadah tapi
tidak tau ilmunya, apalah arti ibadah kita, bahkan bisa jadi karna kita tidak
memiliki ilmunya ibadah yang kita lakukan ternyata salah dan malah mengandung
kemusyrikan, naudzubillah..
lalu kita juga butuh quwwatul
maal (kekuatan harta) dan quwwatul jasad (kekuatan jasad)…
selain itu ada hal penting yang harus kita miliki dan
kita laksanakan yaitu ikhlassun
niyyah (tujuan yang tulus), kembali ke
konteks awal, beribadah hanya mengharap ridho dari Allah SWT, bukan untuk
"ini" dan bukan untuk "itu". Ibadah akan sah bila memenuhi
dua syarat yaitu prakteknya dilakukan sesuai dengan tuntunan Rasul dan
Al-qur'an serta niatnya benar hanya karna Allah..
yang selanjutnya adalah keinginan yang kuat /cita-cita, di luar konteks ibadah saja untuk mendapatkan hasil maksimal sesuai
dengan cita-cita yang kita harapkan kita harus tau betul seberapa kuat
keinginan kita untuk mencapai hal tersebut, dengan usaha maksimal dan atas izin
Allah baru lah keinginan tersebut tercapai, begitu juga dengan ibadah..
Setelah persiapan yang dilakukan dengan baik tadi
terlaksana, maka masuk ke tahap selanjutnya yaitu pelaksanaan ibadah.
Ibadah yang dilakukan haruslah khusnul adab
alias dengan cara yang baik..
Secara zhahir (yang tampak) khusnul adab berarti menyempurnakan
segala tata cara ibadah sesuai dengan tuntunan syariat.Misal,
sebelum sholat wudhu kita haruslah sempurna dan ketika sholat gerakan dan
bacaan dilakukan secara sempurna pula..
Ada sebuah kisah mengenai wudhu, sahabat rasul pernah
ditegur oleh rasul untuk mengulang wudhunya sebelum sholat. Ketika ia sudah
wudhu untuk kedua kalinya rasul menyuruhnya untuk kembali berwudhu, kira-kira
tiga kali sahabat tersebut mengulang wudhunya, sampai akhirnya ia bertanya
kepada rasul mengapa ia harus kembali mengulang wudhunya sampai berkali-kali,
dan rasul pun memberitahu kepada sahabat tersebut bahwa ada bagian yang belum
terkena air wudhu.. begitu pentingnya pelaksanan yang baik saat melaksanakan
suatu ibadah, karna bisa jadi dari hal kecil yang tertinggal atau terlupa akan
membuat pahala ibadah kita berkurang atau bahkan tidak ada sama sekali...
sedangkan secara
batin khusnul adab itu berupa mahabbah (cinta), khauf (takut),
rojaa (harapan) dan hayaa (malu)..
Mahabbah..
Barengilah ibadah kita dengan cinta kepada Allah. Jadi
inget note saia yang dulu "Ketika 'ia' Menghampiri". Ketika kita
mencintai suatu hal entah itu benda mati ataukah sesama makhluk hidup, kita tak
ingin mereka jauh dari kita, tujuan kita fokus pada hal-hal tersebut bukan,
selain itu kita bisa melakukan apa saja demi sesuatu yang kita cintai, begitupun
dengan ibadah..
ketika kita sudah mencintai Allah, menghadirkanNya dalam
hati-hati kita, bagaimanapun kondisinya insyaAllah kita tetap akan melakukan
yang terbaik ketika ibadah.
Ada sebuah kisah lagi-lagi tentang sahabat rasul yang
subhanallah..
suatu malam dua orang sahabat kalau tidak salah sedang
berjaga di malam hari, mereka berdua merasa sangat lelah sekali dan memutuskan
untuk beristirahat.
waktu istirahat mereka isi dengan Qiyamul Lail, karna
mereka hanya berdua akhirnya mereka memutuskan untuk sholat bergantian, dikala
yang satu sedang sholat, ternyata yang satu lagi malah tertidur tepat di bawah
yang satunya saking lelahnya.
sahabat yang sedang sholat ini begitu menikmati sholat
malamnya, dengan bacaan tartil dan suara yang nyaring ia terus melanjutkan
sholatnya.
Tiba-tiba ada musuh yang mendengar bacaan al-qur'an yang
dibaca oleh sahabat yang sedang sholat, dan musuh tersebut akhirnya meluncurkan
anak panahnya dan tepat mengenai dada sahabat yang sedang sholat.
Satu anak panah tertancap di dada, tapi ia masih
melanjutkan sholatnya.
Musuh menembakkan anak panah kedua dan mengenai dada
sahabat yang sedang sholat lagi, namun ia tetap melanjutkan sholatnya, bahkan
tidak mempengaruhi bacaan sholatnya yang nyaring.
Sampai pada anak panah yang ketiga yang menancap di dada
sahabat tersebut, ia masih tetap menikmati sholat malamnya. Sampai akhirnya
musuh pun menyerah dan pergi.
Tak lama kemudian sahabat yang tertidur tepat di bawah
sahabat yang sedang sholat terbangun.
Bukan karna mendengar musuh yang pergi atau mendengar
bacaan sholat sahabat yang begitu nyaring dan khusyu sekali, tapi karna
wajahnya terkena tetesan darah dari tiga anak panah yang tertancap di dada
sahabatnya.
Ia bingung dan merasa sangat kaget, bisa-bisanya tiga
anak panah tertancap di dada sahabatnya, tapi sahabatnya itu tak merasa sakit
dan tidak menghentikan sholatnya.
Akhirnya ia memutuskan untuk menunggu sampai sahabatnya
selesai sholat.
Selepasa salam terakhir diucapkan ia buru-buru menanyakan
perihal tersebut kepada sahabatnya.
"Apa yang terjadi hingga saat kau sholat kau tidak
menghentikan sholatmu sementara tiga anak panah menancap di dadamu wahai
sahabat?"
"Aku hanyalah manusia, sakit memang kurasakan saat
tiga anak panah itu menancap di dadaku, tapi.. nikmatnya sholat malamku
mengalahkan rasa sakit anak panah itu."
Subhanallah sekali ya', karna cintanya kepada Allah,
cintanya kepada ibadah sholatnya, ia sanggup melawan rasa sakit tersebut dan
menyelesaikan sholatnya..
Khauf..
ketika beribadah, hadirkanlah perasaan takut dengan
mengingat dosa-dosa yang sudah kita lakukan.
Rojaa..
Setelah rasa takut itu hadir, hadirkan pula perasaan
rojaa (harapan)..
berharap ibadah-ibadah kita diterima, berharap Allah
masih terus membukakan pintu ampunan dan akan selalu membentangkan pintu-pintu
hidayahnya.
Hayaa..
Malu disini bukanlah malu untuk menjalankan ibadah. Tapi
malu kepada Allah atas sikap kita selama ini. Begitu banyak karunia yang Dia
berikan tapi kita masih saja kurang bersyukur atas semuanya. Nah.. ibadah
inilah yang dijadikan sebagai salah satu sarana untuk bersyukur atas segala
nikmat yang telah Allah berikan..
Setelah ibadah sudah dilakukan buatlah penutup ibadah
yang baik salah satunya adalah dengan bersyukur. Bersyukur masih diberi kesempatan untuk beribadah,
masih diberi kesehatan hingga mampu menjalankan ibadah dengan baik. Cara
bersyukurnya adalah dengan melakukan ibadah-ibadah lainnya..
Lalu kita juga harus merasa takut, ato was-was apakah ibadah kita tadi
diterima atau tidak. Karena salah satu ciri orang yang bertaqwa adalah ketika
selesai melakukan ibadah timbul rasa takut di dalam hatinya.
Namun, tidak hanya rasa takut yang kita hadirkan ketika
selesai melakukan suatu ibadah, tapi berharaplah kepada Allah..
karna ketika kita hanya merasa takut kalau-kalau ibadah
kita tak diterima itu hanya akan membuat kita menjadi seseorang yang pesimis..
jadi, berharaplah.
Nah, tak lupa untuk bermuhasabah juga.
melihat sejauh mana pengaruh ibadah-ibadah tadi terhadap
kehidupan kita.
Karena setiap ibadah itu memiliki tujuannya tersendiri
lho..
misalnya nih, sholat itu kan mencegah perbuatann keji dan
mungkar, nah.. apakah setelah kita melakukan ibadah tersebut dari kecil kita
sudah terjauhi dari perbuatan yang keji dan mungkar?
jika belum, telaahlah dimana letak kesalahannya, apa
mungkin ibadah tadi masih kurang maksimal atau ada penyebab lain, misal niatnya
yang masih bukan karna Allah..
Nah.. yang terakhir adalah menjaga amal-amal yang kita lakukan dari yang merusaknya. Berusaha beristiqomah atas ibadah-ibadah
yang telah kita lakukan, dan sekali lagi mengharap ridho Allah SWT. Karena walaupun kita menjadi ahli ibadah di dunia namun
kenyataannya masih saja kita mendzholimi orang lain, maka tak ada artinya
ibadah yang kita lakukan. hanya menjadi orang-orang yang merugi..
naudzubillah..
semoga kita semua bisa melakukan ibadah-ibadah terbaik
dan ibadah tersebut memberikan feedback yang positif untuk melakukan
ibadah-ibadah lainnya..
amin.
=============
yup, sekian tulisan yang bisa saia bagikan kali ini.
smoga apa yang saia dapat dan saia tulis kembali ini bisa
bermanfaat tak hanya bagi saia pribadi tapi juga bagi kita semua..
bukan
berarti saia menulis ini karna ibadah saia sudah perfect, tapi ini sebagai
bahan pengingat diri dikala ibadah-ibadah yang saia lakukan masih saja belum
maksimal.. insyaAllah.
jika ada kesalahan dalam catatan saia ini, mohon
dikoreksi..
karena saia pun masih butuh ilmu yang lebih banyak lagi.
jika memang benar, semata-mata karna Allah..
karena Dialah yang menguasai semua ilmu.
Hikmah syahadat
Hadis riwayat Anas bin Malik ra., ia
berkata:
Rasulullah saw. dan Muaz bin Jabal
berboncengan di atas tunggangan. Rasulullah saw. bersabda: Hai Muaz. Muaz
menyahut: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw.
memanggil lagi: Hai Muaz. Muaz menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap
menerima perintah. Sekali lagi Rasulullah saw. memanggil: Hai Muaz. Muaz
menjawab: Ya, wahai utusan Allah, aku siap menerima perintah. Rasulullah saw.
bersabda: Setiap hamba yang bersaksi bahwa: Tiada Tuhan selain Allah dan bahwa
Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya, maka Allah mengharamkan api neraka
atasnya. Muaz berkata: Wahai Rasulullah, bolehkah aku memberitahukan hal ini
kepada orang banyak agar mereka merasa senang? Rasulullah saw. bersabda: Kalau
engkau kabarkan, mereka akan menjadi sebagai andalan. [HR Muslim]
Hikmah Syahadat sebagai Rukun Islam pertama
Ingatlah
selalu bahwa bila seseorang menyatakan kalau ia beriman pada Tuhan yang Maha
Esa, yang tanpa sekutu, serta beriman kepada Rasulullah Muhammad saw. serta
meyakini segala hal lain berkaitan dengan agama, tetapi realitasnya pernyataan
itu hanya merupakan ucapan di bibir semata dan hatinya tidak mengakuinya, maka
pernyataan demikian tidak akan membawa keselamatan baginya.
Keselamatan
tidak akan diperoleh sampai suatu saat hati telah mengimani dan hal demikian
menjadi nyata jika perilaku dan amal perbuatan yang bersangkutan
membuktikannya. Sampai keadaan demikian tercapai, tidak ada sesuatu yang telah
dicapai. Sesungguhnya aku nyatakan dengan sebenarnya bahwa tujuan hakiki baru
akan bisa tercapai jika seseorang yang berpaling kepada Tuhan telah
meninggalkan segala yang akan menjadi gangguan, ketika agama sudah diberikan
prioritas utama di atas segala aktualitas duniawi.
Ingatlah!
Seseorang bisa saja menipu mahluk lainnya. Orang bisa terkecoh pandangannya
melihat seseorang melakukan shalat lima kali sehari atau melakukan beberapa
amal baik lainnya, namun Tuhan tidak bisa ditipu. Karena itu amal saleh harus
dilakukan dengan ketulusan yang murni karena hal inilah yang menambah keindahan
dari amal tersebut.
Patut
selalu diingat mengenai makna dari Kalimah Shahadat yang kita ucapkan setiap
hari. Dengan Kalimah itu seseorang mengikrarkan secara lisan dan bersaksi
dengan hatinya bahwa baginya Sang Maha Esa yang patut disembah dan dikasihi
adalah Wujud Tunggal yang menjadi tujuan hakiki.
Dialah Allah
swt dan tak ada sesuatu apa pun selain Dia. Arti kata Ilaha dalam Kalimah
tersebut mengandung makna ‘yang terkasih’, ‘wujud yang menjadi tujuan hakiki’
dan ‘wujud yang disembah dan dihormati.’
Pernyataan
itu merupakan inti keseluruhan ajaran Al-Quran dalam bentuk paling padat yang
diajarkan kepada umat Muslim. Karena tidak mudah menghafal kitab yang demikian
tebal dan rinci, Kalimah ini diajarkan agar setiap orang tetap bisa memelihara
esensi ajaran Islam secara konstan dalam fikirannya. Sesungguhnya sebelum semua
realitas itu berakar dalam kalbu manusia, maka tidak ada keselamatan baginya.
Karena itulah Hazrat Rasulullah saw. menyatakan: ‘Barangsiapa yang mengikrarkan
bahwa tidak ada tuhan/yang disembah/diibadahi selain Allah, ia akan masuk
surga.’ Dengan kata lain, seseorang yang sepenuhnya mengimani ‘la ilaha
illallah’ maka ia akan masuk ke dalam surga.
Sebenarnya
manusia menipu dirinya sendiri jika mengira bahwa mengulang-ulang suatu kata
seperti burung beo, akan memberi mereka kemudahan masuk surga. Jika realitas
memang demikian adanya maka semua amal akan menjadi mubazir dan sia-sia dan
Shariah bisa dianggap, naudzubillah, tidak relevan.
Nyatanya
tidak demikian adanya. Yang patut diperhatikan ialah makna yang terkandung di
dalamnya haruslah meresap ke dalam hati saat pengamalannya. Jika hal ini bisa
tercapai maka benar bahwa yang bersangkutan telah masuk surga, bukan setelah
kematian, tetapi sekarang juga dalam kehidupan kini yang bersangkutan telah
memasuki surga. (Malfuzat, vol. 9, h.102 – 104)
Yang dikemukakan
di atas ini adalah kompilasi ekstraksi yang diambil dari Malfuzat. Malfuzat
adalah judul dari sepuluh jilid buku yang berisi kumpulan diskursus, khutbah
dan nasihat Hazrat Mirza Ghulam Ahmad as. dari Qadian, Masih Maud dan Imam
Mahdi.
Manfaat shalat secara umum:
1.
Memperbaiki
otot punggung.
2.
Memperbaiki
jaringan otot tubuh.
3.
Mengembalikan
keseimbangan tubuh pasca bedah tulang.
4.
Menyembuhkan
otot/tulang yang terkilir.
5.
Menyehatkan
urat nadi dan hati.
6.
Mengurangi
resiko tekanan darah tinggi.
7.
Melancarkan
saluran pernapasan lewat bacaan shalat.
8.
Memperlancar
peredaran darah.
9.
Membuat
tulang mampu menyerap lebih banyak kalsium.
10.
Membakar
lemak di bagian perut.
11.
Menghindari
proses penuaan dini.
Manfaat sujud:
1.
Memperkuat
tulang dan otot terutama pada bagian paha, tumit dan kaki.
2.
Mengoptimalkan
ketahanan fisik.
3.
Melancarkan
peredaran darah.
4.
Mempermudah
proses persalinan dan menghindari posisi bayi sungsang pada wanita hamil.
5.
Mencegah
kenaikan kadar kolestrol dalam darah.
6.
Memperbaiki
fungsi pencernaan.
7.
Sarana
latihan pernapasan.
8.
Membersihkan
sel darah putih dan sel darah merah.
9.
Menyiapkan
diri secara psikologis dalam menghadapi tantagan hidup.
Manfaat shalat subuh pada waktunya:
1.
Mengoptimalikan
fungsi urat syaraf.
2.
Menenangkan
jiwa.
3.
Menjernihkan
pikiran.
4.
Awet
muda.
Manfaat Shalat dari Segi Psikologi:
·
Menjernihkan
jiwa.
·
Mencapai
kesadaran yang lebih tinggi (altered states of consciousness).
·
Mencapai
pengalaman puncak (peak experience).
·
Mengurangi
kecemasan lewat:
1.
meditasi/doa
yang teratur
2.
relaksasi
dengan gerakan shalat
3.
hetero/auto
sugesti dalam bacaan shalat
4.
group
therapy dalam shalat jamaah, atau bahkan dalam shalat sendiri ada saya dan
Allah
5.
hydro
therapy dengan berwudhu
·
Mengembalikan
kesadaran dengan bermi'raj menuju kepada ketinggian Ilahi Rabbi.
·
Melepaskan
diri dari pengaruh alam yang lebih rendah.
·
Bertemu
Allah.
·
Meringankan
ketegangan jiwa.
·
Membuat
pelaku shalat mampu meninggalkan pekerjaan yang buruk.
·
Menumbuhkan
kedermawanan dan keberanian pada pelakunya.
·
Menumbuhkan
sifat saling tolong menolong.
·
Symbol
persamaan dan kebersamaan.
Manfaat Medis Shalat Tahajjud:
Hadits: shalat tahajjud dapat menghapus dosa, mendatangkan
ketenangan, dan menghindakan dari penyakit (HR Tirmidzi).
Ketenangan akan:
1.
Meningkatkan
ketahanan tubuh (Imunologik).
2.
Mengurangi
resiko serangan jantung.
3.
Meningkatkan
usia harapan
4.
Menghilangkan
rasa nyeri pada pasien kanker.
5.
Alternatif
anastesis pra-bedah.
Manfaat medis
lain tahajjud:
1.
Menjadikan
wajah cemerlang dan bersinar.
2.
Mengobati
sakit pada tubuh.
3.
Melancarkan
peredaran darah , terutama pada syaraf otak dan punggung.
4.
Sujud
di shalat tahajjud membuat sel-sel darah dalam otak menjadi bersih dan segar.
5.
Shalat
tahajjud yang disertai niat ikhlas, khusyu, tepat waktu dan terus menerus akan
menghindarkan stress, memperbaiki system imun, dan menghindarkan dari infeksi
dan kanker, sedangkan shalat tahajjud yang tidak disertai niat yang iklas,
tidak khuyu, tidak tepat waktu dan tidak terus menerus dapat menimbulkan
stress, menimbulkan rasa sakir dan penyakit, memperburuk system imun, dan
rentan terkena infeksi dan kanker.
Manfaat shalat tahajjud dalam rangka pemeliharaan
homeostatis:
1.
Terkabulnya
doa
2.
Terjawabnya
permintaan
3.
Diampuninya
dosa
4.
Menyambung
komunikasi dengan Allah
Bukan tanpa maksud Allah menempatkan shalat dengan segala hal yang
berhubungan dengannya sampai Dia menerbangkan rasul ke keluasan tanpa batas di
sidratul muntaha. Karena, cukuplah pertemuan dengan Allah yang maha kasih yang
akan menggenapkan kita dari segala butuh, di dunia dan akhirat.
Hikmah Shalat Dalam Kehidupan Umat
"Ya Tuhan kami,
tiadalah Engkau menciptakan ini dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka
peliharalah kami dari siksa neraka" (QS. Ali Imran 191)
Shalat merupakan ibadah yang penting dan utama bagi umat Islam.
Begitu pentingnya shalat sehingga untuk memberikan perintah shalat Allah
berkenan memanggil sendiri Rasulullah SAW untuk menghadap-Nya secara langsung.
Sedangkan untuk perintah-perintah Allah yang lain selalu disampaikan kepada
Rasulullah melalui perantaraan malaikat Jibril. Karena shalat merupakan ibadah
yang terpenting bagi kehidupan umat, maka tentulah banyak mengandung hikmah
baik ditinjau secara moral (rohani) maupun fisik (jasmani).
1. Tinjauan dari segi moral
Shalat merupakan benteng hidup kita agar jangan sampai
terjerumus ke dalam perbuatan keji dan munkar. Hal ini tampak jelas dalam
firman Allah SWT :
"Sesungguhnya shalat itu mencegah dari
(perbuatan-perbuatan) keji dan munkar"
(QS. Al Ankabut 45)
Shalat yang khusu’ mewujudkan suatu ibadah yang benar-benar
ikhlas, pasrah terhadap zat Yang Maha Suci dan Maha Mulia. Di dalam shalat
tersebut kita meminta segala sesuatu dari-Nya, memohon petunjuk untuk
mendapatkan jalan yang lurus, mendapat limpahan rahmat, rizki, barokah dan
pahala dari-Nya. Oleh karena itu orang yang shalatnya khusu’ dan ikhlas karena
Allah SWT akan selalu merasa dekat kepada-Nya dan tidak akan menghambakan diri,
tidak akan menjadikan panutan selain daripada Allah SWT. Dengan kata lain
segala sesuatu yang dilakukan hanyalah karena Allah dan hanya untuk mendapatkan
ridlo’ dari Allah. Maka pantaslah jika Allah berfirman :
"Sesungguhnya beruntunglah orang-orang yang beriman (yaitu)
orang-orang yang khusu’ dalam sembahyangnya"
(QS. Al Mu’minuun 1-2)
Disamping itu shalat juga membersihkan jiwa dari sifat-sifat
yang buruk, khususnya cara-cara hidup yang materialis yang menjadikan urusan
duniawi lebih penting dari segala-galanya termasuk ibadah kepada Allah.
Kebersihan dan kesucian jiwa ini digambarkan dalam sebuah hadits :
"Jikalau di pintu seseorang diantara kamu ada sebuah sungai
dimana ia mandi lima kali, maka apakah akan tinggal lagi kotorannya (yang
melekat pada tubuhnya) ? Bersabda Rasulullah saw : ‘Yang demikian itu serupa
dengan shalat lima waktu yang (mana) Allah dengannya (shalat itu) dihapuskan
semua kesalahan’."
(HR. Abu Daud)
Yang dimaksud kesalahan disini adalah yang berupa dosa-dosa
kecil, sedangkan yang berupa dosa besar tetap wajib dengan bertaubat kepada
Allah.
Jadi pada hakekatnya shalat itu mendidik jiwa kita agar
terhindar dari sifat-sifat takabur, sombong, tinggi hati, dan sebagainya, serta
mengarahkan kita agar selalu tawakal dan berserah diri kepada Allah SWT. Hal
ini karena pada dasarnya manusia selalu berkeluh kesah apabila ditimpa
kesusahan dan bersifat kikir apabila mendapat kebaikan, ini sesuai dengan salah
satu firman Allah :
"Sesungguhnya manusia diciptakan bersifat keluh kesah lagi
kikir. Apabila ia ditimpa kesusahan, maka ia berkeluh kesah dan apabila ia
mendapat kebaikan ia amat kikir kecuali orang-orang yang mengerjakan shalat,
yang mereka itu tetap mengerjakan shalatnya" (QS. Al Ma’aarij)
Apabila kita mendapat suatu musibah maupun kesulitan, maka kita
harus memohon pertolongan kepada Allah dengan mengerjakan shalat dan bersabar
serta tawakal.
"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan
sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang
khusu’."
(QS. Al Baqarah 45)
"Hai orang-orang beriman, jadikanlah sabar dan shalat
sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar."
(QS. Al Baqarah 153)
Di dalam salah satu firman-Nya Allah juga menegaskan nilai
positif dari shalat :
"(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi
tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah hanya dengan mengingat Allah-lah hati
menjadi tenteram"
(QS. Ar Ra’d 28)
Disamping hal-hal diatas, shalat juga membina rasa persatuan dan
persaudaraan antara sesama umat Islam. Hal ini dapat kita lihat antara lain,
apabila seseorang shalat tidak dalam keadaan yang khusus pasti selalu menghadap
kiblat yaitu Ka’bah di Masjidil Haram Mekah. Umat Islam di seluruh dunia
mempunyai satu pusat titik konsentrasi dalam beribadah dan menyembah kepada
Khaliq-nya yaitu Ka’bah, hal ini akan membawa dampak secara psikologis yaitu
persatuan, kesatuan, dan kebersamaan umat. Contoh lain adalah pada shalat
berjamaah, shalat berjamaah juga mengandung hikmah kebersamaan, persatuan,
persaudaraan dan kepemimpinan dimana pada setiap gerakan shalat ma’mum
mempunyai kewajiban mengikuti gerakan imam, sedangkan imam melakukan kesalahan,
maka ma’mum wajib mengingatkan. Sehingga pada shalat berjamaah keabsahan maupun
kebenaran dalam shalat lebih terjamin, dan diantara jama’ah akan timbul rasa
kebersamaan dan persatuan untuk menyelamatkan jama’ah mereka. Ibarat orang
berkendaraan, penumpang akan selalu ikut menjaga keamanan dan keselamatan
kendaraan yang ditumpanginya. Oleh karena itu tidaklah berlebihan jika shalat
berjamaah mendapatkan tempat yang lebih dibandingkan dengan shalat sendiri. Hal
ini sesuai dengan sabda Rasulullah saw :
"Shalat berjamaah lebih utama (pahalanya) dua puluh derajat"
(HR. Bukhary & Muslim dari Ibnu Umar)
2. Tinjauan
dari segi fisik (kesehatan)
Shalat disamping mengandung hikmah secara moral seperti
diuraikan diatas, juga mengandung hikmah secara fisik terutama yang menyangkut
masalah kesehatan.
Hikmah shalat menurut tinjauan kesehatan ini dijelaskan oleh DR.
A. SABOE yang mengemukakan pendapat ahli-ahli (sarjana) kedokteran yang
termasyhur terutama di barat. Mereka berpendapat sebagai berikut :
a) Bersedekap, meletakkan telapak tangan kanan diatas
pergelangan tangan kiri merupakan istirahat yang paling sempurna bagi kedua
tangan sebab sendi-sendi, otot-otot kedua tangan berada dalam posisi istirahat
penuh. Sikap seperti ini akan memudahkan aliran darah mengalir kembali ke
jantung , serta memproduksi getah bening dan air jaringan dari kedua persendian
tangan akan menjadi lebih baik sehingga gerakan di dalam persendian akan
menjadi lebih lancar. Hal ini akan menghindari timbulnya bermacam-macam
penyakit persendian seperti rheumatik. Sebagai contoh, orang yang mengalami
patah tangan, terkilir maka tangan/lengan penderita tersebut oleh dokter akan
dilipatkan diatas dada ataupun perut dengan mempergunakan mitella yang
disangkutkan di leher.
b) Ruku’, yaitu membungkukkan badan dan meletakkan telapak
tangan diatas lutut sehingga punggung sejajar merupakan suatu garis lurus.
Sikap yang demikian ini akan mencegah timbulnya penyakit yang berhubungan
dengan ruas tulang belakang, ruas tulang pungung, ruas tulang leher, ruas
tulang pinggang, dsb.
c) Sujud, sikap ini menyebabkan semua otot-otot bagian atas akan
bergerak. Hal ini bukan saja menyebabkan otot-otot menjadi besar dan kuat,
tetapi peredaran urat-urat darah sebagai pembuluh nadi dan pembuluh darah serta
limpa akan menjadi lancar di tubuh kita. Dengan sikap sujud ini maka dinding
dari urat-urat nadi yang berada di otak dapat dilatih dengan membiasakan untuk
menerima aliran darah yang lebih banyak dari biasanya, karena otak (kepala)
kita pada waktu itu terletak di bawah. Latihan semacam ini akan dapat
menghindarkan kita mati mendadak dengan sebab tekanan darah yang menyebabkan
pecahnya urat nadi bagian otak dikarenakan amarah, emosi yang berlebihan,
terkejut dan sebagainya yang sekonyong-konyong lebih banyak darah yang di
pompakan ke urat-urat nadi otak yang dapat menyebabkan pecahnya urat-urat nadi
otak, terutama bila dinding urat-urat nadi tersebut telah menjadi sempit,
keras, dan rapuh karena dimakan usia.
d) Duduk Iftrasy (duduk antara dua sujud & tahiyat awal),
posisi duduk seperti ini menyebabkan tumit menekan otot-otot pangkal paha , hal
ini mengakibatkan pangkal paha terpijit. Pijitan tersebut dapat menghindarkan
atau menyembuhkan penyakit saraf pangkal paha (neuralgia) yang menyebabkan
tidak dapat berjalan. Disamping itu urat nadi dan pembuluh darah balik di
sekitar pangkal paha dapat terurut dan tirpijit sehingga aliran darah terutama
yang mengalir kembali ke jantung dapat mengalir dengan lancar. Hal ini dapat
menghindarkan dari pengakit bawasir.
e) Duduk tawaruk (tahiyat akhir), duduk seperti ini dapat
menghindarkan penyakit bawasir yang sering dialami wanita yang hamil. Kemudian
duduk tawaruk ini juga dapat untuk mempermudah buang air kecil.
f) Salam, diakhiri dengan menoleh ke kanan dan ke kiri. Hal ini
sangat berguna untuk memperkuat otot-otot leher dan kuduk, selain itu dapat
pula untuk menghindarkan penyakit kepala dan kuduk kaku.
Dari penjelasan diatas, maka dapatlah disimpulkan bahwa sholat
disamping merupakan ibadah yang wajib dan istimewa ternyata juga mengandung
manfaat yang sangat besar bagi kesejahteraan dan kebahagiaan hidup umat
manusia.
(Oleh : Fajar Adi Kusumo)
Daftar Pustaka :
- Drs. M. Noor Matdawam, Bersuci, Shalat, dan Butir-butir
Hikmahnya
- Syeh Mustofa Masyhur, Berjumpa Allah Lewat Shalat
- DEPAG RI, Al Qur’an & Terjemahannya
1.
Pembersih diri dan harta dari segala sifat-sifat kikir, bakhil dan
sejenisnya. (QS.9:103).
2.
Mendapat pahala yang besar (QS.4:162).
3.
Zakat membersihkan harta. “Allah SWT telah menjadikan zakat itu sebagai
pemberish bagi harta”. (HR. Bukhari).
4.
Orang yang berzakat termasuk dalam 7 golongan yang dinaungi Allah
SWT di hari kiamat. “Ada 7 golongan yang akan dinaungi Allah pada hari
kiamat kelak”… (salah satu diantaranya) adalah orang yang bersedekah dengan
merahasiakannya agar keikhlasannya terjaga”. (HR. Bukhari).
5.
Merasakan cita rasa iman. “Ada tiga hal, barang siapa yang melakukan tiga
hal itu, niscaya dia merasakan cita rasa iman:…(salah satunya) ialah
mengeluarkan zakat hartanya dengan hati yang baik dan ikhlas…” (HR. Abu Daud).
6.
Menumbuhsuburkan harta (Semakin bertambah dan berkembang).
(QS.2:261).
7.
Membantu meringankan bebean kaum fakir/miskin. “Allah SWT
mewajibkan bagi orang-orang kaya muslim agar mengeluarkan sebagian harta mereka
untuk membantu fakir miskin diantara mereka. Para fakir miskin tidak akan mempu
berjihat dalam keadaan lapar kecuali mereka dibantu orang-orang kaya yang ada
diantara mereka…”(HR. Thabrani).
8.
Zakat memelihara harta orang kaya. “Peliharalah hartamu dengan
zakat, obati orang-orang sakit dengan sedekah dan tolaklah bala’ dengan do’a”.
(HR. Thabrani dan Ibnu Mas’ud).
Zakat
merupakan ibadah yang memiliki dimensi ganda, trasendental dan horizontal. Oleh
sebab itu, zakat memiliki banyak arti dalam kehidupan umat manusia, terutama
Islam. Zakat memiliki banyak hikmah, baik yng berkaitan dengan Sang Khaliq
maupun hubungan sosial kemasyarakatan diantara manusia, antara lain :
۞
Menolong, membantu, membina dan membangun kaum dhuafa yang lemah papa dengan
materi sekedar untuk memenuhi kebutuhan pokok hidupnya. Dengan kondisi tersebut
mereka akan mampu melaksanakan kewajibannya terhadap Allah SWT.
۞
Memberantas penyakit iri hati, rasa benci dan dengki dari diri orang-orang di
sekitarnya berkehidupan cukup, apalagi mewah. Sedang ia sendiri tak memiliki
apa-apa dan tidak ada uluran tangan dari mereka (orang kaya) kepadanya.
۞
Dapat mensucikan diri (pribadi) dari kotoran dosa, memurnikan jiwa (menumbuhkan
akhlaq mulia, menjadi murah hati, peka terhadap rasa kemanusiaan), dan mengikis
sifat bakhil (kikir) serta serakah. Dengan begitu akhirnya suasana ketenangan
bathin karena terbebas dari tuntutan Allah SWT dan kewajiban kemasyarakatan,
akan selalu melingkupi hati.
۞
Dapat menunjang terwujudnya sistem kemasyarakatan Islam yang berdiri atas
prinsip-prinsip: Ummatan Wahidan (umat yang satu), Musawah (persamaan derajat, dan dan
kewajiban), Ukhuwah Islamiyah (persaudaraan Islam) dan Takaful
Ijti’ma (tanggung
jawab bersama).
۞
Menjadi unsur penting dalam mewujudakan keseimbanagn dalam distribusi harta
(sosial distribution), dan keseimbangan tanggung jawab individu dalam
masyarakat.
۞
Zakat adalah ibadah maaliyah yang mempunyai dimensi dan fungsi sosial ekonomi
atau pemerataan karunia Allah SWT. dan juga merupakan perwujudan solidaritas
sosial, pernyataan rasa kemanusian dan keadilan, pembuktian persaudaraan Islam,
pengikat persatuan ummat dan bangsa, sebagai pengikat bathin antara golongan
kaya dengan yang miskin dan sebagai penimbun jurang yang menjadi pemisah antara
golongan yang kuat dengan yang lemah.
۞
Mewujudkan tatanan masyarakat yang sejahtera dimana hubungan seseorang dengan
yang lainnya menjadi rukun, damai dan harmonis yang akhirnya dapat menciptakan
situasi yang tentram, aman lahir bathin. Dalam masyarakat seperti itu takkan
ada lagi kekhawatiran akan hidupnya kembali bahaya komunisme (atheis) dan paham
atau ajaran yang sesat dan menyesatkan. Sebab dengan dimensi dan fungsi ganda
zakat, persoalan yang dihadapi kapitalisme dan sosialisme dengan sendirinya
sudah terjawab. Akhirnya sesuai dengan janji Allah SWT. akan terciptalah sebuah
masyarakat yangBaldatun Thoyibun Wa Rabbun
Ghafur.
HIKMAH ZAKAT
Ada
banyak hikmah yang terkandung dengan diwajibkannya zakat :
1.
Sebagai perwujudan iman
kepada Allah SWT, mensyukuri nikmat-Nya, menumbuhkan akhlak mulia dengan
memiliki rasa kepedulian yang tinggi, menghilangkan sifat kikir dan rakus,
menumbuhkan ketenangan hidup, sekaligus mengembangkan dan mensucikan harta yang
dimiliki.
2.
Karena zakat merupakan
merupakan hak bagi mustahik, maka berfungsi untuk menolong, membantu dan
membina mereka -terutama golongan fakir dan miskin, ke arah kehidupan yang
lebih baik dan lebih sejahtera, sehingga mereka dapat memenuhi kebutuhan
hidupnya dengan layak, dapat beribadah kepada Allah SWT, terhindar dari bahaya
kekufuran, sekaligus menghilangkan sifat iri, dengki dan hasad yang mungkin
timbul dari kalangan mereka ketika melihat golongan kaya yang berkecukupan
hidupnya. Zakat, sesungguhnya bukan sekadar memenuhi kebutuhan konsumtif yang
sifatnya sesaat, akan tetapi memberikan kecukupan dan kesejahteraan pada
mereka, dengan cara menghilangkan atau memperkecil penyebab kehidupan mereka
menjadi miskin dan menderita.
3.
Sebagai
pilar jama’i antara kelompok aghniya yang berkecukupan
hidupnya, dengan para mujahid yang waktunya sepenuhnya untuk berjuang
di jalan Allah SWT, sehingga tidak memiliki waktu yang cukup untuk berusaha
bagi kepentingan nafkah diri dan keluarganya . Allah berfirman dalam surat
Al – Baqarah ayat 273 : “kepada orang-orang fakir yang terikat di
jalan Allah; mereka tidak dapat di bumi; orang yang tidak tahu menyangka
mereka orang kaya karena memelihara diri dari minta-minta. Kamu kenal mereka
dengan melihat sifat-sifatnya, mereka tidak meminta kepada orang secara
mendesak. Dan apa saja harta yang baik yang kamu nafkahkan , maka sesungguhnya
Allah Maha Mengatahui.”
4.
Sebagai salah satu sumber
dana bagi pembangunan sarana maupun prasarana yang harus dimiliki ummat Islam,
seperti sarana pendidikan, kesehatan, maupun sosial ekonomi dan terlebih lagi
bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia.
5.
Untuk memasyarakatkan
etika bisnis yang benar, karena zakat tidak akan diterima dari harta yang
didapatkan dengan cara bathil. Zakat mendorong pula ummat Islam untuk
menjadi muzakki yang sejahtera hidupnya.
6.
Dari sisi pembangunan
kesejahteraan ummat, zakat merupakan salah satu instrumen pemerataan
pendapatan. Zakat yang dikelola dengan baik, dimungkinkan dapat membangun
pertumbuhan ekonomi sekaligus pemerataan pendapatan. Monzer Kahf
menyatakan bahwa zakat dan sistem pewarisan Islam cenderung kepada distribusi
harta yang egaliter, dan bahwa sebagai akibat dari zakat, harta akan selalu beredar.
Zakat, menurut Mustaq Ahmad, adalah sumber utama kas negara
sekaligus merupakan soko guru dari kehidupan ekonomi yang dicanangkan Al
Qur’an. Zakat akan mencegah terjadinya akumulasi harta pada satu tangan, dan
pada saat yang sama mendorong manusia untuk melakukan investasi dan
mempromosikan distribusi.
Zakat juga merupakan institusi yang komprehensif untuk
distribusi harta, karena hal ini menyangkut harta setiap muslim secara praktis,
saat hartanya telah sampai atau melewati nishab. Akumulasi harta di tangan
seseorang atau sekelompok orang kaya saja, secara tegas dilarang Allah SWT,
sebagaimana firman-Nya : “…agar harta itu jangan hanya beredar di
antara orang-orang kaya saja di antara kamu…”(QS. Al Hasyr, 59:7).
HIKMAH PUASA
DALAM TINJAUAN AGAMA DAN ILMU PENGETAHUAN
(Oleh : Fajar Adi Kusumo)
Manusia merupakan
makhluk yang tertinggi derajatnya, oleh karena itu manusia diutus oleh Allah
untuk menjadi khalifah di muka bumi. Sebagai makhluk yang tertinggi yang
membedakan antara manusia dengan makhluk Allah yang lain adalah manusia
dikaruniai oleh Allah dengan akal sedangkan makhluk Allah yang lain tidak.
Dengan akalnya ini manusia berusaha sejauh mungkin untuk mengupas
rahasia-rahasia alam karena alam semesta ini diciptakan oleh Allah dan tak akan
lepas dari tujuannya untuk memenuhi kebutuhan makhluknya. Hal ini ditegaskan
oleh Allah di dalam salah satu firman-Nya :"Ya Tuhan kami, tiadalah Engkau menciptakan ini (langit dan bumi) dengan sia-sia. Maha Suci Engkau, maka peliharalah kami dari siksa api neraka"
(QS. Ali Imran : 191)
Ayat inilah yang membuat orang mulai berpikir untuk mencari hikmah dan manfaat yang terkandung dalam setiap perintah maupun larangan Allah diantaranya adalah hikmah yang tersembunyi dari kewajiban menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan yang diperintahkan oleh Allah khusus kepada orang-orang yang beriman. Hal ini seperti disebutkan di dalam firman Allah yaitu :
"Hai orang-orang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa"
(QS. Al Baqarah : 183)
Sudah barang tentu hikmah puasa tersebut sangat banyak baik untuk kepentingan pribadi maupun untuk kepentingan umat (masyarakat) pada umumnya. Diantara hikmah-hikmah tersebut yang terpenting dan mampu dijangkau oleh akal pikiran manusia sampai saat ini antara lain :
a. Memelihara kesehatan jasmani (Badaniyah)
Sudah menjadi kesepakatan para ahli medis, bahwa hampir semua penyakit bersumber pada makanan dan minuman yang mempengaruhi organ-organ pencernaan di dalam perut. Maka sudah sewajarnyalah jika dengan berpuasa organ-organ pencernaan di dalam perut yang selama ini terus bekerja mencerna dan mengolah makanan untuk sementara diistirahatkan mulai dari terbit fajar hingga terbenamnya matahari selama satu bulan.
Dengan berpuasa ini maka ibarat mesin, organ-organ pencernaan tersebut diservis dan dibersihkan, sehingga setelah menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan Insya Allah kita menjadi sehat baik secara jasmani maupun secara rohani. Hal ini memang sudah disabdakan oleh Rasulullah SAW dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Ibnu Suny dan Abu Nu’aim yaitu :
Dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Berpuasalah maka kamu akan sehat"
(HR. Ibnu Suny dan Abu Nu’aim)
Juga dalam hadits yang lain dari Abu Hurairah, Rasulullah bersabda :
"Bagi tiap-tiap sesuatu itu ada pembersihnya dan pembersih badan kasar (jasad) ialah puasa"
(HR. Ibnu Majah)
Dalam penelitian ilmiah, kebenaran hadis ini terbukti antara lain :
1. Fasten Institute (Lembaga Puasa) di Jerman menggunakan puasa untuk menyembuhkan penyakit yang sudah tidak dapat diobati lagi dengan penemuan-penemuan ilmiah dibidang kedokteran. Metode ini juga dikenal dengan istilah "diet" yang berarti menahan / berpantang untuk makanan-makanan tertentu.
2. Dr. Abdul Aziz Ismail dalam bukunya yang berjudul "Al Islam wat Tibbul Hadits" menjelaskan bahwa puasa adalah obat dari bermacam-macam penyakit diantaranya kencing manis (diabetes), darah tinggi, ginjal, dsb.
3. Dr. Alexis Carel seorang dokter internasional dan pernah memperoleh penghargaan nobel dalam bidang kedokteran menegaskan bahwa dengan berpuasa dapat membersihkan pernafasan.
4. Mac Fadon seorang dokter bangsa Amerika sukses mengobati pasiennya dengan anjuran berpuasa setelah gagal menggunakan obat-obat ilmiah.
b. Membersihkan rohani dari sifat-sifat hewani menuju kepada sifat-sifat malaikat
Hal ini ditandai dengan kemampuan orang berpuasa untuk meninggalkan sifat-sifat hewani seperti makan, minum (di siang hari). Mampu menjaga panca indera dari perbuatan-perbuatan maksiat dan memusatkan pikiran dan perasaan untuk berzikir kepada Allah (Zikrullah). Hal ini merupakan manifestasi (perwujudan) dari sifat-sifat malaikat, sebab malaikat merupakan makhluk yang paling dekat dengan Allah, selalu berzikir kepada Allah, selalu bersih, dan doanya selalu diterima.
Dengan demikian maka wajarlah bagi orang yang berpuasa mendapatkan fasilitas dari Allah yaitu dipersamakan dengan malaikat. Hal ini diperkuat oleh sabda Rasulullah dalam salah satu haditsnya yang diriwayatkan oleh Turmudzi yaitu :
"Ada tiga golongan yang tidak ditolak doa mereka yaitu orang yang berpuasa sampai ia berbuka, kepala negara yang adil, dan orang yang teraniaya"(HR. Turmudzi).
Juga dalam hadits lain dari Abdullah bin ‘Amr bin ‘As, Rasulullah SAW bersabda :
"Sesungguhnya orang yang berpuasa diwaktu ia berbuka tersedia doa yang makbul"
(HR. Ibnu Majah)
Disamping itu hikmah yang terpenting dari berpuasa adalah diampuni dosanya oleh Allah SWT sehingga jiwanya menjadi bersih dan akan dimasukkan ke dalam surga oleh Allah SWT. Hal ini diperkuat dengan hadits Nabi yaitu :
Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah bersabda :
"Barang siapa berpuasa di bulan Ramadhan karena iman dan perhitungannya (mengharapkan keridla’an Allah) maka diampunilah dosa-dosanya.
(HR. Bukhari)
Juga dari hadits yang diriwayatkan oleh Bukhari yaitu :
Dari Sahl r.a dari Nabi SAW beliau bersabda :
"Sesungguhnya di dalam surga ada sebuah pintu yang disebut dengan Rayyan. Pada hari kiamat orang-orang yang berpuasa akan masuk surga dari pintu itu. Tidak seorangpun masuk dari pintu itu selain mereka. (Mereka) dipanggil : Mana orang yang berpuasa ? Lalu mereka berdiri. Setelah mereka itu masuk, pintu segera dikunci, maka tidak seorangpun lagi yang dapat masuk"
(HR. Bukhari)
Dengan demikian maka dapatlah disimpulkan bahwa berpuasa membawa manfaat yang sangat besar bagi manusia baik sebagai makhluk pribadi maupun makhluk sosial. Sehingga setelah seseorang selesai menjalankan ibadah puasa di Bulan Suci Ramadhan diharapkan ia menjadi bersih dan sehat baik jasmani maupun rohani dan kembali suci bagai bayi yang baru lahir. Amiin.
Daftar Pustaka :
- M. Noor Matdawam, Ibadah puasa dan amalan-amalan di Bulan Suci Ramadhan
- M Noor Matdawam, Pembinaan dan Pemantapan Dasar Agama
- Maftuh Ahnan, Mutiara Hadits Shahih Bukhari
- Al Qur’an