ORANG MISKIN SULIT SAKIT
Setiap tanggal 7 april seluruh
masyarakat dunia memperingati “Hari Kesehatan Internasional”.Peringatan
tersebut untuk mengugah kesadaran bersama bahwa setiap orang berhak untuk hidup
sehat, tanpa memandang setatus social.Tidak jarang momen tersebut digunakan
Ormas dan LSM untuk menyelenggarakan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan
kesehatan seperti pengobatan masal dan lain sebagainya.
Namun demikian momen penting itu
tetap terasa kering, karena tidak didukung oleh fakta yang sesungguhnya.Sehat
masih identic dengan biaya mahal, sehingga melahirkan ketimpangan yang curam
antara masyarakat miskin dan kaya, yang tidak berduit sepertinya sulit untuk
memenuhi setandart sehat dan mendapatkan pelayanan kesuhatan yang memadai.Orang
miskin, secara tidak langsung, dibiarkan sakit, oleh beberapa pihak yang
menjadi pelayan kesehatan semacam, dokter, apotik, rumah sakit, bahkan juga
pemerintahan.Harga obat-obatan mahal,dan rumah sakit menerima mereka dengan
setengah hati.
Di Indonesia memang telah
melokasikan dana untuk menjamin kesehatan rakyat miskin.Ditahun 2004, dana yang
dilokasikan sebanya Rp.65 miliyar.Anggaran terus naik tuap tahun.Pada tahun
2007 Rp.25 triliun.Meskipun jumlah ini jauh dari standar yang disarankan oleh
Badan kesehatan Dunia (WHO) yakni sebesar 15% dari seluruh anggaran Negara.
Lalu yang jadi pertanyaan , kenapa
masyarakat miskin tetap tidak dapat pelayanan yang memadai? Lantas, kenama
anggaran sebesar itu.
FILOSOFI SEHAT DALAM AGAMA
Meski
filosofi yang sering dilontarkan dalam agama adalah: “UNTUK APA KESEHATAN?”
tidan berarti agama sama sekali tidak berbicara mengenai “Bagaimana hidup Sehat?”
Ada
beberapa hadis yang mengandung ajaran-ajaran hidup sehat, Misalnya, sabda
Rasulullah?, “Lakukan lah bepergian maka, maka kaslian sehat, “dan berpuasalah
kalian, maka kalian sehat”. Orang yang tidur dalam keadaan tangaannya berbau
lemak , lalu iya terkena sesuatu , maka janganlah iya mencela kecuali dirinya
sendiri